Anjing Lucu di Laos: Yang mana favorit kamu?

Anjing mama Alex

Saat kami menjelajah negara Laos yang dulunya dikenal dengan sebutan Land of A Million Elephants, kami pikir akan banyak menemukan gajah yang berkeliaran di sepanjang jalan atau gajah yang nongkrong di pojokan dekat warung kopi. Namun ternyata populasi gajah di Laos memang sudah menurun jauh dibandingkan saat kerajaan Lane Xiang (yang secara literal artinya memang sejuta gajah) memerintah di abad 14 dahulu. Sekarang yang terlihat di sepanjang jalanan di desa-desa di Laos hanyalah ternak kerbau, sapi, bebek, babi yang kadang seringkali lebih cocok disebut raja jalanan karena semua kendaraan harus berhenti ketika mereka berlari-lari cantik melintas menyeberangi jalan. Selain ternak, banyak juga anjing lucu di Laos.

Banyak anjing lucu di Laos

Banyak anjing lucu di Laos

Tak ada gajah, anjing pun jadi. Demikian penghiburan kami sebagai pecinta binatang yang senang sekali ketemu binatang saat perjalanan. (Catat: hanya binatang lucu, bukan binatang liar atau binatang buas!) Di Laos memang banyak sekali anjing lucu yang berkeliaran, ada yang memang anjing rumah, banyak juga anjing yang hidup di jalanan. Kami melihat perawatan terhadap anjing peliharaan di Laos masih jauh kualitasnya dibandingkan perawatan anjing di Indonesia yang seringkali dibawa ke salon untuk grooming. Di Laos kadang anjing rumah pun bulunya agak kasar dan kotor. Walaupun begitu, tetap saja pada dasarnya mereka lucu 🙂

Anjing-anjing di Laos sebagian besar ramah dan sangat affectionate terhadap orang asing. Tinggal dipanggil dan mereka akan langsung mendatangi sambil mengibas-ngibaskan ekor dan ndusel-ndusel tanda bahwa mereka senang. Mungkin mereka lebih senang ketemu orang asing yang suka anjing karena di kota tertentu Adam sempat melihat orang lokal sedang membuat BBQ anjing. Selama 4 bulan keliling Laos, cuma satu kali saya merasa terancam dengan anjing-anjing yang berkeliaran di jalan. Di Savannakhet memang terkenal anjing-anjingnya buas dan tidak bersahabat. Saya sempat gemeteran karena dikerubungi oleh beberapa anjing yang menggonggong nyaring sambil memanggil kawanannya. Untungnya saya ditolong oleh orang lokal yang mencoba menghalau anjing tersebut dengan sepeda motor yang dikendarainya.

Mari kami perkenalkan dengan beberapa anjing lucu di Laos!

Anjing Mama Alex

Anak anjing berwarna hitam putih ini kami temukan di sebuah cafe kecil di Nong Khiaw. Nama cafenya adalah ‘Alex’ dan pemiliknya adalah seorang ibu yang sangat ramah dan menyebut dirinya dengan sebutan ‘Mama’. Anjing mama Alex sangat hiperaktif (namanya juga anak-anak) dan terlihat sangat ceria. Sayangnya saat 2 bulan kemudian kami mendatangi tempat itu, kata Mama Alex anjing itu pergi dan tidak kembali lagi. Ayo ngaku, siapa yang culik anjing mama Alex?!

Anjing mama Alex

Anjing mama Alex

Dotty Dog

Bisa tebak kenapa kami menamai dia Dotty Dog? Anjing yang berkeliaran di Luang Prabang ini berwarna putih dengan titik (=dot) besar berwarna coklat di bagian punggungnya. Entah jenis apa Dotty Dog ini, yang pastinya mukanya aneh, sepertinya campuran dari beberapa ras. Wajahnya agak mirip Yoda sang Jedi Master, karakternya pun unik. Dia terlihat senang saat dipanggil dan langsung mendekati, namun sangat mudah terdistraksi. Jadi saat dielus-elus, dia seringkali menoleh tiba-tiba ke arah tertentu dan kami pun ditinggalkan alias di-PHP 🙁 Dotty Dog ini juga agak misterius. Dia sering nongkrong di salah satu toko di jalanan utama Luang Prabang, namun tak berselang lama, kami melihat dia di salah satu rumah di dekat sungai Mekong. Entah ada 2 dotty dog yang kembar identik, atau memang pemilik toko membawa dia pulang ke rumah setelah tokonya tutup 🙂

Dotty Dog

Dotty Dog

Wajah Dotty Dog yang unik

Wajah Dotty Dog yang unik

Marble Dog

Ini anjing favoritnya Adam! Kami ketemu anjing ini di Muang Ngoi, sebuah desa kecil yang hanya bisa dicapai dengan jalur sungai. Walaupun banyak dikunjungi turis, kehidupan di desa ini masih sangat sederhana, tidak ada jalanan beraspal sama sekali di jalan utama yang hanya sepanjang beberapa ratus meter saja. Marble dog sepertinya tidak berpemilik, dia berkeliaran saja di jalanan berdebu dengan puluhan anjing lainnya. Warnanya hitam dengan corak seperti marmer cake, maka itu saya panggil dia dengan nama Marble Dog (walaupun awalnya Adam bingung dengan nama pilihan saya itu).

Marble Dog di jalanan berdebu Muang Ngoi

Marble Dog di jalanan berdebu Muang Ngoi

Marble dog anjing yang ramah dan selalu ingin mengikuti kami, namun sayang sepertinya ada garis batas wilayah bagi mereka. Seringkali dengan wajah yang ragu-ragu dia berhenti di satu titik dan tidak berani melangkah lebih jauh lagi untuk mengikuti kami. Yang paling mengharukan adalah saat kami berjalan menembus hutan sejauh 3 kilometer dan akan pulang, belum sampai desa (kira-kira 1 km lagi) terlihat Marble Dog yang sepertinya berusaha mengikuti jejak kami. Dia berlari-lari dengan girang ke arah kami dan langsung tiduran tanda minta digaruk perutnya.


Marble Dog yang senang digaruk perutnya

Marble Dog yang senang digaruk perutnya

Dari sana dia berjalan di samping kami sampai kembali ke desa. Bahkan dia menunggu saat kaki Adam terantuk batu dan berdarah sehingga harus diplester dahulu. Hampir sampai desa, ada persimpangan dan Marble Dog berhenti mengikuti kami. Sepertinya mengajak kami untuk mengambil jalan yang satunya lagi. Kami mengabaikan dia dan terus berjalan di jalan yang kami pilih. Hasilnya? Tentu saja kami nyasar!

Guardian Dog

Ini bisa dibilang anjing favorit kami berdua. Sayalah yang pertama kali ketemu dan menamai dia Guardian Dog. Anjing ini ada di Huay Xay, kota kecil di perbatasan Laos dan Thailand yang hanya dipisahkan oleh sungai Mekong. Suatu pagi karena harus mengantar Adam berangkat ke Gibbon Experience, saya terpaksa bangun pagi. Berkah dari bangun pagi itu adalah bisa melihat ritual Giving Alms yang berlangsung di sepanjang jalan utama kota itu. Saat para bhiksu berbaris untuk menerima makanan dari penduduk lokal bersimpuh di atas tikar, saya melihat ada seekor anjing berwarna coklat yang dengan serius mengamati prosesi ini. Tampangnya sungguh serius dengan dahi yang berkerut. Kadang dia bergeser dan duduk tegak bak seorang satpam yang sedang menjaga keamanan.

Guardian Dog

Guardian Dog

Setelah Adam pulang dari Gibbon Experience, saya kenalkan dia dengan Guardian Dog. Ternyata dia langsung ndusel-ndusel ke kami. Di luar sisi affectionate-nya, dia sepertinya memang mempunyai otoritas tertinggi di antara anjing-anjing yang ada di kota itu. Seperti layaknya seekor Alpha Male, kami melihat anjing-anjing lain agak takut jika Guardian Dog sedang patroli di sepanjang jalanan kota. Kelihatannya para penduduk lokal juga sudah biasa mengajak bermain Guardian Dog. Rupanya mereka menamai anjing itu ‘Freedom’.


Long Brown Socks Puppy

Kalau ini sih sudah dari sananya lucu. Maklum, masih anak-anak. Anak anjing berwarna hitam dengan ‘kaus kaki panjang’ berwarna coklat muda ini kami temukan di sebuah guesthouse & restoran di desa Kong Lor. Anaknya pasrahan, saat digendong pun anteng saja. Kalau bisa saya culik sih sudah saya masukin ke backpack nih!

Anak anjing lucu di Laos

Anak anjing lucu di Laos

Usaha penculikan anjing lucu

Usaha penculikan anjing lucu

Demikianlah kisah-kisah pertemuan kami dengan beberapa anjing lucu di Laos. Sebetulnya masih banyak pertemuan dengan anjing-anjing lain, namun dengan mungkin ikatan batinnya tidak sekuat para anjing lucu yang diceritakan di atas. Saking sukanya dengan anjing lucu, setiap kali melihat anjing pasti saya buru-buru ambil kamera untuk sekedar mengkoleksi foto-foto mereka.

Kumpulan foto anjing lucu di Laos

Kumpulan foto anjing lucu di Laos

Kalau kamu suka anjing tidak? Kalau anjingnya lucu suka kan? *maksa*

Beach dog di Don Det

Beach dog di Don Det

Dog-eared Dog

Dog-eared Dog

Ibu dan anak anjing berebut tulang

Ibu dan anak anjing berebut tulang

Snowy - anak anjing lucu di Laos

Snowy – anak anjing lucu di Laos

Join the discussion 5 Comments

Leave a Reply