3 tempat bersejarah di Semarang

Dulu saya menganggap sejarah itu membosankan, ternyata liburan di Semarang membuktikan bahwa saya salah! Kapal Laksamana Cheng Ho parkir di sungai tengah kota, kompleks candi yang penuh misteri, dan sebuah gedung berlangit-langit geladak kapal yang erat hubungannya dengan seorang penari erotis mata-mata Belanda. Semua itu ada di Semarang, kota yang menyimpan berbagai kejutan. Inilah 3 tempat bersejarah di Semarang.

Candi Gedong Songo - salah satu kelompok candi

Candi Gedong Songo – salah satu kelompok candi

Klenteng Sam Poo Kong

Tujuan utama kunjungan saya ke Semarang saat itu adalah untuk merasakan meriahnya perayaan Imlek. Klenteng Sam Poo Kong adalah salah satu lokasi yang ramai dikunjungi oleh mereka yang merayakan, maupun oleh turis seperti saya. Kompleks klenteng ini luaaas sekali, dan terdiri dari beberapa bangunan ibadah, sebuah patung Laksmana Cheng Ho setinggi 12,7 meter, dan lapangan luas dengan panggung di salah satu sisinya. Di belakang jajaran klenteng kita bisa mengikuti kisah perjalanan armada Cheng Ho yang tergambar dalam relief di tembok.

Sam Poo Kong - Relief kisah perjalanan Cheng Ho

Sam Poo Kong – Relief kisah perjalanan Cheng Ho

Klenteng Sam Poo Kong sendiri dibangun oleh masyarakat setempat, yang merupakan keturunan Tionghoa dan mayoritas penganut ajaran Kong Hu Cu. Walaupun berbeda keyakinan, mereka sangat menghormati sang Laksamana yang beragama Islam. Bahkan mereka memberi kombinasi warna hijau pada klenteng, yaitu warna khas ornamen Islam, dan salah satunya dirancang menghadap kiblat serta memiliki beduk. Klenteng yang bisa mengajarkan kerukunan antar umat beragama ini dibangun pada abad ke-18 dengan nama Sam Poo Kong, yang berarti “seorang leluhur dengan tiga kekuatan”.

Sam Poo Kong - salah satu klenteng

Sam Poo Kong – salah satu klenteng

Lokasi yang kini menjadi area klenteng, menurutpemandu wisata, dulunya merupakan pantai Simongan, tempat kapal Laksamana Cheng Ho terdampar pada abad ke-15. Kapal dagang ini berlayar dari Yunan, Cina Selatan, dan kemudian dibuat replikanya dan bisa kita lihat di Jalan Lombok, Semarang, tepatnya di seberang klenteng Tay Kak Sie.

Sam Poo Kong - Sang Laksamana di tengah para pengunjung

Sam Poo Kong – Sang Laksamana di tengah para pengunjung

Gedung Marabuntha di Kota Tua

Salah satu kegemaran saya adalah jalan-jalan santai di area kota tua. Bagi saya gedung-gedung tua, terutama yang bergaya Eropa, selain cantik juga terlihat misterius. Yang pasti, area kota tua pasti telah menjadi saksi berbagai peristiwa, Semarang tak terkecuali. Saat berjalan-jalan sambil foto-foto kanan kiri, perhatian saya terpaku pada suatu gedung dengan patung semut raksasa di atasnya. “Aneh sekali!”, pikir saya, “Tapi juga menarik.”

Marabuntha Gedung Serbaguna - Semarang

Marabuntha Gedung Serbaguna – Semarang

Iseng saya memasuki pekarangan, dan sang penjaga mengizinkan saya masuk ke dalam gedung. Obrol punya obrol dengannya, ternyata Marabuntha Gedung Serbaguna ini difungsikan sebagai gedung pertunjukan sejak abad ke-19. Seorang penari legendaris pernah berpentas di sini, mungkin kamu pernah mendengar kisah tentangnya, Mata Hari. Ia wanita Belanda yang bernama asli Margaretha Gertruida Zelle, sempat menikah dengan seorang perwira Belanda dan tinggal di Semarang, sebelum menjadi penari professional – dan  konon merangkap pelacur elit – di Eropa barat. Hidupnya berakhir dengan hukuman mati setelah kedoknya sebagai mata-mata tersingkap.

Marabuntha - geladak kapal terbalik

Marabuntha – geladak kapal terbalik

Interior gedung ini menambah kesan misterius, apalagi suasananya yang gelap walaupun waktu itu masih sore. Kaca patri dengan berbagai ilustrasi penari balet (dan anehnya juga Putih Salju dengan para kurcaci!), langit-langit berupa geladak kapal terbalik, dan bagian panggung tertutup tirai biru dengan ornamen klasik. Bagian yang agak baru adalah bar di salah satu pojok ruangan, yang dirancang dengan konsep lambung kapal. Sekarang gedung Marabuntha di kota tua Semarang ini sering digunakan untuk pertunjukan musik ataupun sebagai lokasi pengambilan gambar video. Untuk kamu yang sedang mencari gedung pernikahan, Marabuntha juga bisa menjadi pilihan, lho!

Marabuntha - dari dalam gedung

Marabuntha – dari dalam gedung

Candi Gendong Songo

Walaupun tidak sepopuler Borobudur atau Prambanan, Candi Gedong Songo tak kalah menarik untuk didatangi. Terletak di kaki Gunung Ungaran, Candi Gedong Songo sebenarnya lebih dekat dari kota Ambarawa, tapi tak jarang turis yang kemari dalam rangka liburan mereka di Semarang karena hanya terpaut waktu sekitar 1,5 jam naik mobil.

Candi Gedong Songo - pemandangan ke bawah

Candi Gedong Songo – pemandangan ke bawah

Dari gerbang masuk kompleks candi, terbentang jalan setapak yang mengitari taman bunga, menanjak ke puncak, melewati kelompok-kelompok kecil Candi pertama hingga yang kelima. Kalau dari namanya, memang seharusnya ada sembilan candi (gedong = rumah, songo = sembilan), tapi saat ini hanya lima yang tersisa. Kita bisa memilih mau jalan kaki sampai candi teratas atau naik kuda, dengan tarif termurah Rp 20.000,00 untuk trayek terdekat. Saya sih waktu itu memilih jalan kaki, karena asyik lho berjalan di tengah cuaca sejuk dengan pemandangan hutan pinus, bahkan sempat berkabut ketika saya sampai atas!

Candi Gedong Songo - naik kuda atau jalan kaki

Candi Gedong Songo – naik kuda atau jalan kaki

Candi Gedong Songo diperkirakan dibangun pada abad ke-8, sejaman dengan Candi Arjuna di Dieng, namun belum ada kepastian tentang ini karena kurangnya prasasti yang ditemukan di sini. Satu hal yang pasti, pemandangan alam di kompleks Candi Gedong Songo ini cantik banget. Bukan cuma “pelajaran sejarah” yang bisa kita dapatkan di sini, tapi juga refreshing untuk mata yang terbiasa melihat monitor komputer :D

Cari hotel murah di Semarang lewat Agoda. Best price guarantee!

Vira is a guest writer for Pergi Dulu. You can follow her on twitter @indohoy and read her blog at http://indohoy.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge