Ketinggalan bis di Venice (Day 25 #EuropeDulu)

By October 4, 2013Europe

Pernah ketinggalan bis? Sudah biasa lah ya kalau ketinggalan bis. It’s not a big deal at all. But…..it is a BIG deal kalo ketinggalan bis setelah beli tiket seharga 98 euro (untuk 2 orang)! Jadi begini ceritanya….*silahkan duduk yang nyaman buat dengerin dongeng sebelum tidur ini*…. Karena beberapa kali kami kesulitan dapat transport akibat kurang persiapan dan tidak booking tiket terlebih dahulu, kali ini kami ini kami di Venice punya waktu untuk booking tiket bis menuju Roma.

Pemandangan kanal di Venezia

Pemandangan kanal di Venezia

Kami booking tiket melalui website Eurolines, namun kami kesulitan membayar dengan kartu kredit dan website tersebut mengharuskan kami membayar lewat agen yang memiliki logo Sisal. Sempat panik karena cuma punya waktu sehari di Venice, kami menemukan toko kelontong dengan logo Sisal di depannya. Karena kesulitan bahasa, komunikasi tersendat dan pemilik toko hampir tidak bisa membantu kami membayar tiket bis tersebut lewat sistemnya. Namun akhirnya transaksi berhasil dan kami pun membayar cash kepada pemilik warung dan kami dapat printout bukti pembayarannya.

Di hari H, kami dengan PeDe menuju lokasi halteu bis Mestre dimana kami didrop oleh bis Eurolines semalam sebelumnya waktu menempuh perjalanan dari Austria ke Venice (waktu itu kami sampai di Mestre jam 3.30 subuh). Setelah beberapa lama berdiri di halteu bis tersebut, kami curiga halteu bis tersebut hanya untuk pemberhentian bis dalam kota. Adam pun berjalan sekitar 50 meter ke ujung jalan dimana ada suatu pemberhentian bis untuk bis-bis yang menuju bandara. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bis Eurolines akan berhenti di sana, Adam kembali lagi ke halteu bis dan mencoba masuk ke dalam stasiun kereta untuk bertanya-tanya pada petugas. Keluar dari dalam stasiun, Adam bilang tidak ada yang bisa bantu, petugas di dalam stasiun bilang dia tidak tahu tentang pemberhentian bis Eurolines.


Waktu sudah semakin dekat dengan jadwal yang tercantum di tiket, namun belum ada tanda-tanda bis datang. Kami berpikiran positif bahwa bis mungkin terlambat karena bis tersebut dalam perjalanan dari kota lain dan cuma transit sebentar di Mestre. Merasa tidak tenang, Adam kembali mencoba cari informasi ke seberang jalan karena di seberang juga ada pemberhentian bis sementara saya tetap berjaga di halteu bis awal. Adam berhasil mendapat info dari pemilik cafe seberang bahwa bis Eurolines biasanya lewat di jalanan di depan cafe itu dan berhenti sebentar untuk mengangkut penumpang. Merasa tenang dengan informasi tersebut, saya pun menyebrang jalan dan ikut menunggu di halteu bis itu.

Pemandangan kota Roma

Pemandangan kota Roma

Setelah 45 menit lewat dari jam yang dijadwalkan, kami pun mulai merasa tidak enak dan mulai berpikir bahwa kami telah ketinggalan bis tersebut. Kami coba kontak nomor Euroline tapi kena hold dari pihak sana. Karena kesulitan free wifi, kami harus berdiri di depan salah satu hotel untuk mendapatkan koneksi gratis. Saat browsing, saya menemukan alamat kantor Eurolines di Mestre, yang rupanya berlokasi sama dengan perhentian bis yang menuju ke bandara. Kami menuju lokasi dan bertanya ke loket, ternyata mereka tidak punya perwakilan staf Eurolines di kota itu. Namun staf di loket mengkonfirmasi bahwa biasanya bis Eurolines berhenti sebentar di depan kantor mereka untuk mengangkut penumpang. Yang artinya…..sudah bisa dipastikan kami ketinggalan bis yang seharusnya lewat 1 jam yang lalu.

Kami mencoba mengirim email kepada Eurolines dan mendapatkan jawabannya sekitar 30 menit kemudian yang bunyinya, “If you want, you can buy another ticket.” Buy? We already paid 100 euro! Anyway, kami mencoba menganalisis kenapa hal ini bisa terjadi. Alasan utamanya adalah informasi tidak jelas mengenai dimana perhentian bis dan tidak banyak orang yang bisa membantu walaupun kami sudah bertanya sana-sini. Alasan kedua, setelah diusut-usut, bis yang seharusnya kami naiki ternyata bukan bermerk Eurolines walaupun kami memesannya via website Eurolines. Jadi sebetulnya sekitar jam yang dijadwalkan, Adam melihat sebuah bis bermerk lain yang mendekati tikungan jalan (yang cuma berjarak 50 meter dari halteu bis tempat kami menunggu), berhenti 1-2 menit, kemudian berangkat lagi.

Setelah membaca artikel dan mendengar pendapat dari orang lokal, ternyata masalah ketinggalan bis karena tidak tahu dimana pick-up pointnya ini sudah sering terjadi. Masalahnya, kami kan kehilangan uang 100 Euro gara-gara insiden bodoh ini. Akhirnya kami beli tiket kereta api yang berangkat di sore hari. Benar-benar membuang waktu karena harus menunggu berjam-jam dan jelas harus merogoh kantong lagi.

Menurut kalian, dalam kasus kami, adakah hal yang bisa dilakukan untuk mencegah ketinggalan bis ini? Dan jika ini terjadi pada kalian, apa yang akan kalian lakukan? Bagi-bagi pendapatnya ya 🙂

Join the discussion 6 Comments

  • nengbiker says:

    too bad, 100 euro hilang 😐

    sepertinya websitenya sendiri juga ga informatif dg armadanya. mungkin perlu cek dan ricek ulang untuk memastikan bisnya. tapi juga waktunya terbatas banget ya T_T

  • Aku punya pengalaman yang sama waktu menaiki KTX Express dari Busan ke Seoul. Jadwal jam 18:30. Baru pertama kali naik kereta penghubung dr bandara, terus nyambung ke Commline pindah – pindah dua kali, sampai baru tahu stasiun kereta Busan sama stasiun KTX Busan itu berbeda. Kendala bahasa lagi – lagi, aku datang ke stasiun KTX Busan TEPAT jam 18:30, yah.. artinya sudah ketinggalan. Melayang deh uangnya (tapi sistem reservasinya bagus, kalau cancel tiba – tiba uang yang diambil hanya 15% dari Credit Card).
    Jadi, hmm.. yang pasti evaluasi aku juga, manajemen waktu juga, kalau belum tahu medan harus banyak nanya – nanya, dari hotel tempat aku menginap sebelumnya misalnya,cari informasi selengkap mungkin. Fiuh… mudah mudahan kita ngga kejadian lagi ya hal seperti itu. Whoosah..

  • @radliaa says:

    kalau saya, bakal nanya lebih detail nunggunya dimana, sebelah mana, bisa ngapain dulu sambil nunggu, kalo perlu sampai warna bisnya ditanyain lagi deh hehe. biar aja kesannya rese, daripada salah. but then again, to travel is to be LOST (in this case: LOsing more coST hehe) semoga tidak terulang kembali ya! 🙂

  • Sayang sekali ya uangnya terbuang percuma 🙁 memang kendala paling besar sepertinya bahasa. Sejauh ini beberapa kali mwnggunakan eurolines, tempat pemberhentiannya jelas disampaikan baik itu melalui website maupun agen dimana saya membeli tiketnya. Semoga tidak terulang lagi.

Leave a Reply