Mount Nemrut, Turki: Mencari Kepala yang Tergeletak

By November 30, 2013Turki
Akhirnya ketemu juga dengan patung-patung ini

Sudah pernah dengar tentang Mount Nemrut? Saya sih sebelumnya tidak pernah dengar sama sekali tentang Mount Nemrut atau yang biasa dikenal dalam bahasa lokal sebagai Nemrut Dagi. Sewaktu kami diundang untuk mampir ke rumah Febi & Yvan (Jalan2liburan) di Antwerp, kami diberitahu oleh Yvan bahwa di Turki ada satu spot keren yang agak sulit dicapai. Setelah disuguhi video-video YouTube tentang Mount Nemrut tersebut, kami pun membulatkan tekad untuk mampir ke sana saat kunjungan kami ke Turki.

Deretan kepala patung di Mount Nemrut

Deretan kepala patung di Mount Nemrut

Ada apa di Mount Nemrut?

Yang membuat Mount Nemrut menarik selain pemandangan alam gunungnya dengan ketinggian 2150 meter adalah adanya sisa-sisa peninggalan kuburan kerajaan Commagene yang dimulai dari tahun 1 SM. Di atas gunung itu Raja Antiochus, pemimpin kerajaan Commagene membangun kuburan untuk dirinya sendiri yang dikelilingi oleh beberapa patung ukuran raksasa. Selain patung dirinya sendiri, ada juga patung burung elang, singa dan berbagai dewa-dewi pada masa itu seperti Hercules, Zeus, Fortuna dan Apollo. Tujuan didirikannya kuburan dengan patung-patung tersebut adalah agar rakyatnya terus memuja dia ketika dia sudah meninggal.

Patung kepala singa dan kepala elang

Patung kepala singa dan kepala elang

Saat ini kepala-kepala patung tergeletak di tanah. Ada yang diletakkan berjejer di depan patung badannya, ada juga yang berserakan. Para peneliti mencurigai bahwa patung-patung itu sengaja dirusak oleh pihak penguasa setelah kerajaan Commagene hancur karena menentang konsep okultisme yang diterapkan oleh Antiochus. Namun karena patung-patung tersebut sempat terkubur di bawah salju dan terlupakan hingga ditemukan kembali tahun 1883 oleh seorang insiyur asal Jerman, banyak kerusakan yang sulit dideteksi penyebabnya.

Kepala patung yang berserakan

Kepala patung yang berserakan

Apapun alasannya, lokasi tersebut memiliki aura yang membuat bulu kuduk berdiri. Pertama karena di atas gunung itu selalu dingin dan berangin. Selain itu memang karena suasananya yang misterius akibat tatapan kosong dari mata para patung, berada di sana merupakan suatu pengalaman yang menakjubkan. Oh ya, saat itu tidak ada orang lain selain kami berdua (karena sedang low season) jadi kami bisa bebas foto-foto tanpa harus berebut giliran pose.

Tatapan mata yang kosong

Tatapan mata yang kosong

How to get to Mount Nemrut

Sebenarnya untuk menuju ke Mount Nemrut itu gampang-gampang-sulit. Gampang karena tidak mustahil, sulit karena tidak ada transportasi publik yang bisa mengantarkan langsung sampai ke depan pintu lokasi. Buku panduan internasional yang kesohor menganjurkan pembacanya untuk ikut tur lokal dari kota terdekat. Namun karena kami orangnya suka penasaran dan tidak suka ikut tur, maka kami pun melakukannya secara independen.


Karena saat itu sudah lewat peak season dan hawanya sudah mulai dingin, maka jumlah turis pun menurun. Kami dengar tur lokal belum tentu ada setiap hari, apalagi kadang di musim dingin jalanan menuju Mount Nemrut bisa sampai tertutup salju sehingga tidak bisa dilewati. Sehari sebelumnya saat di Goreme (Cappadocia) kami bertemu seorang pemuda yang tadinya mau ke Nemrut juga tapi dia batalkan karena dapat info dari guesthouse bahwa Nemrut tidak bisa dikunjungi karena bersalju. Hmm….namun karena tekad kami sudah bulat, kami abaikan informasi tersebut dan tetap menuju Kahta.

Patung kepala dewa-dewi di Mount Nemrut

Patung kepala dewa-dewi di Mount Nemrut

Kota yang terdekat dengan Mount Nemrut ada 2, yaitu Malatya dan Kahta. Malatya kotanya cukup besar namun dari sana masih cukup jauh ke Mount Nemrut. Oleh karena itu setelah naik balon udara di Goreme (Cappadocia) kami memutuskan untuk naik bis sampai ke Kahta. Perjalanan bisa dari Goreme memakan waktu satu malam, berangkat kurang lebih jam 8, sempat transit di kota lain (tenang, tiketnya sudah tiket terusan), kemudian sampai Kahta sekitar jam 7 pagi. Dari Kahta jaraknya masih sekitar 40 km lebih. Kembali kami dihadapkan pada 2 pilihan, yaitu ikut tur yang biasa diadakan oleh salah satu guesthouse di kota itu (yang sepertinya cukup ramai direkomendasikan di TripAdvisor) atau sewa taksi.

Kami pun memilih sewa taksi karena tidak mau bergantung pada jadwal tur. Dari depan stasiun bis Kahta kami pun menawar taksi seharga 80 TYL untuk mengantar kami ke Mount Nemrut, menunggu kami selama naik gunung dan pulang lagi ke stasiun bis. Perjalanan sangat lancar, melewati jalanan mulus sampai ke depan gerbang pendakian Mount Nemrut.

Papan petunjuk di awal jalur pendakian

Papan petunjuk di awal jalur pendakian

Dari tempat parkir, sudah ada tangga yang berjejer mengantarkan pengunjung sampai ke puncak tempat patung-patung tersebut berada. Pengunjung bisa pilih jalur kiri (eastern terrace) atau jalur kanan (western terrace), keduanya terhubung di puncak. Rupanya di jalur kanan masih ada sebagian area yang belum dibangun tangga sehingga kami harus berjalan menanjak di atas bebatuan. Secara keseluruhan, medannya tidak sulit, cuma agak melelahkan karena non-stop naik terus. Pulangnya menyenangkan karena tinggal turun terus.

Deretan tangga di Mount Nemrut

Deretan tangga di Mount Nemrut

Di perjalanan kami mengamati bahwa sebetulnya ada minibus dengan rute Kahta – Karadut (desa yang paling dekat ke Mount Nemrut), namun dari Karadut tidak ada transportasi umum lagi. Dari Karadut ke Nemrut masih sekitar 12km. Kalau punya waktu senggang mungkin bisa jalan kaki atau kalau sedang peak season mungkin bisa hitchhiking sampai ke Nemrut.

Harga tiket masuk Mount Nemrut: 9 TYL

Akhirnya ketemu juga dengan patung-patung ini

Akhirnya ketemu juga dengan patung-patung ini

Selamat mencari kepala-kepala yang tergeletak! 🙂

Join the discussion 9 Comments

Leave a Reply