PergiDulu: 2014 Rewind

By January 1, 2015Miscellaneous
Kompilasi PergiDulu 2014

Tahun 2014 dimulai dengan gemerlapan seiring pertunjukan kembang api yang kami saksikan di malam tahun baru Sydney Harbour bersama Daniel Giovanni dan teman-teman Coushsurfing-nya. Dari sana, tahun 2014 bergulir penuh lika-liku saat kami mengunjungi 9 negara dan bertemu banyak orang-orang hebat dan membuat mimpi travel blogging ini tetap hidup. Berikut ini pengalaman kami dari bulan ke bulan.

Januari

Setelah sempat menyaksikan pertunjukan kembang api di Sydney Harbour, kami mencoba melakukan road trip menggunakan mobil ayah Adam dan membeli tenda serta beberapa peralatan camping. Hasilnya…..GAGAL. Kami memutuskan kembali ke rumah setelah 3 malam karena cuacanya yang panas serta kasur pompa yang kami pinjam dari ibunya Adam bocor. Kami menghabiskan seluruh bulan January di Sydney dan kembali ke Indonesia pertengahan bulan Februari. Di Sydney sempat jalan kaki mengikuti jalur coastal walk Bondi – Coogee. Recommended!

Bronte Beach di jalur Bondi-Maroubra coastal walk

Bronte Beach di jalur Bondi-Maroubra coastal walk

Februari

Bulan ini agak sepi aktivitas. Kami hanya keluyuran di Bandung dan sempat ke Jakarta untuk mengurus aplikasi visa ke Myanmar (waktu itu belum bebas visa). DiΒ  bulan ini untuk pertama kalinya tulisan kami dimuat di KompasKlass.

Cinque Terre - Kompas Klass - Februari 2014

Cinque Terre – Kompas Klass – Februari 2014

Maret

Di bulan ini ada beberapa artikel kami yang tayang di beberapa majalah dan koran Kompas. Namun yang paling menarik di bulan Maret ini adalah kunjungan kami selama sebulan penuh ke Myanmar yang berlanjut sampai ke pertengahan April. Kami mengunjungi banyak lokasi-lokasi menarik di Myanmar seperti Bago, Golden Rock, Kalaw, Inle Lake, Mandalay, Hsipaw dan Bagan. Masalah yang cukup mengganggu adalah saat itu sedang panas-panasnya karena sedang puncak musim panas sehingga kegiatan eksplorasi waktu itu sangat menguras energi. Bayangkan suhu 43-44ΒΊC setiap hari!

Golden Rock di Myanmar

Golden Rock di Myanmar

April

Ketika di Myanmar kami sempat merasakan Water Festival yang diselenggarakan bersamaan di beberapa negara yang mayoritas penganut agamanya Budha. Di Thailand biasanya dikenal dengan istilah Songkran Festival. Seru tapi agak ngeri karena banyak kecelakaan akibat perkelahian dan korban mabuk. Dari Myanmar kami langsung menuju Aceh untuk mengunjungi Pulau Weh, Banda Aceh, Takengon dan Berastagi dengan total waktu 3 minggu. Di Pulau Weh kami sempat mencoba Intro Dive (pertama kali untuk Adam, kedua kalinya untuk Susan).

Intro Dive di Pulau Weh

Intro Dive di Pulau Weh

Mei

Setelah menyelesaikan bagian pertama di Sumatera, kami menuju ke Medan selama 1 malam sebelum terbang ke Singapura atas undangan Resorts World Sentosa. Waktu itu kami sempat mengadakan kompetisi di mana pemenangnya (Noniq) kami ajak ikut menikmati Universal Studios, ESPA serta berbagai fasilitas lainnya di Resorts World Sentosa. Kami tidak mengeluarkan sepeser uang bahkan pulang ke Medan dengan membawa ekstra beberapa SGD hasil mencoba peruntungan kami di kasinonya. Terima kasih banyak, Resorts World Sentosa!

Sekembalinya ke Medan, kami menjelajahi Wisata Kuliner di Medan dan kami suka banget! Dari sana kami ke Bukit Lawang. Adam pernah ke sana 8 tahun yang lalu dan cukup kaget dengan perubahan yang terjadi. Sekarang Bukit Lawang jauh lebih banyak dikunjungi turis lokal dibandingkan dahulu. Setelah itu kami menuju Danau Toba, namun begitu sampai Adam langsung sakit sehingga kami memutuskan untuk pulang dulu ke Bandung. Saat di Medan kami diundang untuk menginap di J.W Marriott Hotel Medan dan mendapatkan kamar junior suite yang keren sekali. Bisa dibilang itu adalah hotel terbaik kami di Indonesia.

Mencoba peruntungan di Casino RWS

Mencoba peruntungan di Casino RWS

Juni

Awal Juni kami kembali lagi ke Australia, kali ini untuk housesit (jaga rumah) ayahnya Adam di daerah Blue Mountains karena dia sedang liburan di Inggris. Ayahnya punya sebuah log cabin di tengah hutan dan saat musim dingin enak sekali untuk dipakai bersantai di depan perapian. Total kami menghabiskan waktu 5 minggu di Australia dan banyak aktivitas yang kami lakukan. Kunjungan singkat ke Melbourne untuk bertemu teman sekaligus mengeksplor coffee scene di sana. Hasilnya dipublikasikan dalam artikel di majalah Femina (edisi akhir tahun 2014 ini).

Kembali ke Sydney kami dapat kesempatan menikmati Winter Festival di Katoomba di daerah Blue Mountains — sesuatu yang tidak boleh dilewatkan jika kalian ke sana di bulan Juni! Selain itu kami juga sempat menjadi host buat Trinity yang kebetulan sedang di Australia. Kami undang dia untuk menginap di rumah ayah Adam dan jalan-jalan di sekitar Blue Mountains, selfie di Three Sisters dan gosip ini itu πŸ™‚

Selfie bersama Trinity di Three Sisters, Blue Mountains

Selfie bersama Trinity di Three Sisters, Blue Mountains

Akhir Juni kami kembali lagi ke Melbourne. Kali ini atas undangan Samsung dan Tourism Australia / Tourism Victoria. Sebelumnya memang sudah ada kesepakatan bahwa kami akan menulis sebuah artikel untuk koran Kompas yang kebetulan saat itu diundang juga. Dimulai dari Geelong, kami naik bis sepanjang 12 Apostles dan kemudian untuk pertama kalinya naik helikopter menikmati pemandangan dari udara. Hari berikutnya masih seputar Great Ocean Road sambil foto-foto menggunakan kamera Samsung yang dipinjamkan. Hari berikutnya kami mengunjungi area wine di Mornington Peninsula. Dari trip tersebut kami mengenal 2 orang hebat — Davy Linggar (fotografer) dan Valent Hartadi (Editor Kompas Klass).

Naik helicopter di Great Ocean Road, Melbourne

Naik helicopter di Great Ocean Road, Melbourne

Juli

Setelah cukup sibuk di bulan Juni, kami mengawali bulan Juli dengan menyewa campervan Spaceships seharga $20 per hari dan melakukan road trip. Kali ini kami mengarah ke daerah perairan di utara New South Wales, naik ke Queensland sampai sejauh Hervey Bay, kemudian berbelok ke pedalaman. Di daerah perairan kami banyak menyaksikan paus-paus yang berlompatan keluar dari air. Kebetulan saat itu memang sedang musim migrasi paus sehingga banyak yang terlihat dari pantai, tidak perlu ikut cruise khusus. Selain itu yang jadi highlight adalah kunjungan ke Carnarvon Gorge yang disertai drama ban kempes di tengah hutan dan jalanan tak beraspal. Setelah selesai ganti ban dibantu oleh kakek baik hati, kami melanjutkan perjalanan. Namun baru beberapa menit tiba-tiba ada kangguru yang melompat menyeberang ke arah mobil kami. Saya pikir kangguru itu tertabrak masuk ke bawah mobil, namun rupanya dia berhasil lolos hanya selisih beberapa cm.

Malam terakhir di campervan sangat dingin dengan suhu mencapai -6ΒΊC dan keesokan paginya campervan kami putih diselimuti bunga es. Namun kami juga senang karena hari itu kami berhasil melihat platypus di alam liar untuk pertama kalinya.


Pertama kali lihat platypus di alam liar

Pertama kali lihat platypus di alam liar

Selesai road trip, kami mengunjungi sebuah negara baru — Korea Selatan! Tripnya cukup singkat, cuma 8 hari. Kami kurang cocok dengan makanannya karena memang kurang suka dengan makanan Korea. Namun yang jadi highlight bagi kami adalah mendaki Mount Seorak sampai ke puncak Ulsanbawi.

Di puncak Ulsanbawi Rock, Mount Seorak

Di puncak Ulsanbawi Rock, Mount Seorak

Agustus

Pulang ke Bandung di bulan Agustus, kami mendengar tentang suatu tempat baru yang namanya Tebing Keraton. Kami memutuskan untuk mencari tahu sebelum tempat itu ramai didatangi orang dan kami bersyukur kami sudah ke sana waktu itu karena sekarang mereka memasang tarif untuk menikmati pemandangan alam yang harusnya bebas dinikmati siapa pun. Apalagi tarif untuk turis asing mahal sekali, Rp 76.000,- per orang untuk tempat yang tidak punya fasilitas sama sekali. Tapi memang pemandangan di sana keren sih. Silakan cek video ini kalau tidak percaya πŸ™‚

Tebing Keraton yang Populer di Bandung

Tebing Keraton yang Populer di Bandung

Hari terakhir di bulan Agustus, Susan menghadiri peluncuran buku TNT Anthology. Di buku itu Susan menyumbang satu cerita. Peluncuran itu dihadiri oleh Trinity, Okke Sepatumerah dan Rocky Martakusumah sebagai sebagian dari penulis TNT Anthology. Di sana selain bedah buku juga ada tanya jawab dari para pengunjung.


Peluncuran buku TNT Anthology di Bandung

Peluncuran buku TNT Anthology di Bandung

September

Bulan September kami mengunjungi Malaka dan membuat video serta menulis artikel blog tentang kuliner di Malaka yang ternyata cukup sukses! Kuliner favorit kami adalah laksa dan chicken rice balls. Di Bandung, kami juga sempat mengikuti cooking class bersama Kijang Mas Culinary Class membuat Black Forest Cake dan Coconut Cookies. Dari sana kami mengadakan kompetisi blog di mana 2 pemenangnya bisa mengikuti kursus gratis di KMCC!

Ikut Cooking Class di KMCC Braga

Ikut Cooking Class di KMCC Braga

Oktober

Awal Oktober kami kembali ke Sumatera untuk melanjutkan trip kami yang sempat tertunda di Danau Toba. Kami sangat menikmati Danau Toba, keliling Pulau Samosir naik motor sewaan dan santai-santai di pinggir danau. Dari sana kami melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi, Padang, Bengkulu, Krui dan Bandar Lampung. Kami sangat kecewa karena saat itu sedang banyak sekali kabut asap sehingga sangat merusak pemandangan dan pengalaman kami di Sumatera. Hal yang mengagetkan adalah Krui yang walaupun kecil dan tersembunyi, rupanya sangat populer di kalangan surfer international dan ada BANYAK SEKALI bule surfer di sana!

Kembali ke Bandung, akhir Oktober kami diundang untuk merayakan ulang tahun ke-5 Hotel Padma Bandung, yang merupakan salah satu hotel terbaik di Bandung. Mudah-mudahan di tahun 2015 nanti kami bisa bekerjasama lebih lanjut karena memang servis dan kualitas yang diberikan sangat bagus.

Mengunjungi Museum Batak Huta Bolon

Mengunjungi Museum Batak Huta Bolon

November

Awal November kami mampir ke Bali untuk menemui ibu Adam yang kebetulan sedang mampir ke Bali dalam rangka cruise ship dari Australia. Saat itu kami juga sempat ngobrol-ngobrol dan menginap di rumah pemilik website Travelfish.org. Orang baik dengan bisnis bagus. Panduan yang dia sediakan fokus ke Asia Tenggara, jujur dan paling baik kualitasnya!

Dari Bali kami menuju ke Chiang Mai di mana kami menyewa apartemen selama 1 bulan. Benar-benar pengalaman yang paling menyenangkan dan jadi highlight tahun 2014. Kami sempat menyaksikan festival Yee Peng / Loi Krathong yang super keren di mana beberapa hari sebelumnya ada banyak parade, dekorasi serta aktivitas menarik lainnya.Β  Selama di Chiang Mai kami berusaha mencoba mencoba sebanyak mungkin makanan enak yang ada di sana. Selain itu kami juga sempat road trip menggunakan motor sejauh 500km dengan rute loop Chiang Mai- Mae Hong Son – Pai – Chiang Mai. Pengalaman yang menakjubkan! Kami akan banyak menulis artikel tentang pengalaman kami di Chiang Mai, siap-siap ya!

Mengunjungi Sunflower Field di Propinsi Mae Hong Son, Thailand

Mengunjungi Sunflower Field di Propinsi Mae Hong Son, Thailand

December

Setelah satu bulan di Chiang Mai, kami menuju ke … THE MALDIVES. Maldives ini jadi tujuan impian bagi banyak orang, begitu juga buat kami. Masalahnya adalah kami budget traveler yang tidak punya cukup uang untuk menginap di resort-resort mewah di atas air tersebut. Namun ternyata sekarang Maldives sudah terbuka bagi backpackers. Kami menggunakan ferry umum dan menginap di pulau-pulau lokalnya. Dan memang keren. Beberapa orang bertanya apa bedanya mengunjungi pulau lokal di Maldives dengan mengunjungi Kepulauan Seribu. Yang bisa kami katakan hanyalah bahwa segala-galanya yang ada di Maldives berbeda dengan Indonesia, tidak ada kemiripan sama sekali. Kalau kalian tidak mau mengunjungi Maldives karena katanya mirip Kepulauan Seribu, silahkan saja. Yang pasti kalian sendiri yang akan melewatkan pengalaman sebuah negara yang menarik.

Wajib selfie dengan latar belakang air biru jernih khas Maldives

Wajib selfie dengan latar belakang air biru jernih khas Maldives

Dari Maldives kami bergeser ke negara tetangganya, Sri Lanka. Banyak hal di Sri Lanka yang agak mirip dengan Indonesia, seperti jalanan, sistem kereta api dan pemerintah yang menarifkan tiket mahal bagi turis asing. Namun tentu saja budayanya jauh berbeda dengan Indonesia. Yang pasti negara ini unik dan layak untuk dijelajahi. Tunggu artikel-artikel kami tentang Sri Lanka!

Di puncak Mihintale, Sri Lanka

Di puncak Mihintale, Sri Lanka

Pada akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada para pembaca setia blog PergiDulu. Kalian benar-benar membuat kami semangat dalam mengelola blog ini. Semoga di tahun 2015 nanti akan makin banyak bertemu pembaca seperti kalian dan pembaca baru. Jika sedang main ke Bandung, silakan kontak kami untuk sekedar ngopi dan ngobrol-ngobrol. Jika kami berkunjung ke kota kalian, jangan sungkan-sungkan juga untuk ketemuan. Akhir kata, Selamat Tahun Baru, Happy Holidays dan semoga sukses di tahun 2015!

Love,

Adam & Susan.

 

Join the discussion 12 Comments

  • Kakak … selamat tahun baru 2015, sukses terus dan jalan terus yaaa hehehe. Kece2 tempat yg di kunjungi + bikin iri πŸ™

    • Susan Natalia Poskitt says:

      Selamat tahun baru…semoga di tahun 2015 ini om cumi ga lebay lagi…..#eh menyalahi esensi dong ya πŸ˜‰
      Sukses terus omcum! :))

  • dr semua tempatnya, aku mupeng ama Maldives πŸ™‚ Pengeeennn…

  • happy new year kak *telaat* semoga 2015 makin sukses dan makin banyak jalan+artikel+foto ketjehnya πŸ˜€

    aah semoga saya juga diberikan kesempatan+rezeki supaya bisa jalan kaya pergidulu, sumpaaah ngiriiii

  • Exxongukurjalan says:

    pengalaman yang dan trip yg sangat menginspirasi.. Happy new year 2015 dan salam kenal Susan & Adam.. Kalo ada trip ke Netherland kabar2 ya..

  • Huwaaaaaa bikin ngiriiiiii, aku jalan-jalannya taun 2014 sedikit banget karena ada skripsi dan nikah hahahaa,
    semoga kalian makin banyak rejeki yaa.
    aku mau deh berguru sama kalian (sebagai junior), bagaimana menjalani rumah tangga secara nomaden,
    terus juga kalo amin bisa berangkat whv boleh ya main kerumah ayahnya mas Adam. muehehee *banyak maunya*

    • Susan Natalia Poskitt says:

      huahaha…..semoga sukses WHV-nya. Kalo masalah mennginap, agak sulit karena syaratnya ada 2: harus pas kami ada di sana dan harus pas ayahnya lagi pergi liburan. Karena rumahnya sama sekali tidak ada kamar tamu dan kayaknya ga enak aja kalau lagi ada ayahnya. Maklum, budaya org barat kan beda sama budaya timur….hehe. Semoga kapan2 ada waktu yg pas ya πŸ™‚

  • noniq says:

    So envy!!! Pengen banget bisa mendedikasikan hidup untuk travelling.. Look forward for another great adventure ya , dear PergiDulu!! Happy New Year πŸ™‚

Leave a Reply