Profil Travel Blogger: Hanny Kusumawati

Menikmati dermaga di pagi hari | Pulau Sebayur, Flores

Setelah bulan April kemarin kami membahas Profil Travel Blogger seorang nomadic traveller dari Australia, bulan ini kami kembali melirik travel blogger dari dalam negeri. Profil Travel Blogger bulan Mei ini adalah seorang female travel blogger yang kadang-kadang suka solo traveling. Mari kita kenali lebih jauh sosok yang satu ini sekaligus belajar dari pengalaman solo female travelingnya.


Nama: Hanny Kusumawati

Twitter: @beradadisini 

URL (blog): http://beradadisini.com

Kota Asal: Bogor

Domisili: Bogor

Ceritakan sedikit tentang Hanny Kusumawati
Saya suka menulis. Memotret. Membaca. Memasak. Memanggang kue. Tertawa. Bepergian sendirian. Ketika traveling, biasanya saya membawa-bawa buku catatan dan bolpen. Perjalanan selalu menjadi momen yang menyenangkan untuk menulis—terutama untuk membunuh waktu ketika sedang menunggu transfer pesawat di bandara. Saya tidak pernah berkeberatan melewatkan landmark atau tempat-tempat bersejarah lainnya di kota-kota yang saya kunjungi. Biasanya, saya justru lebih suka menghabiskan waktu di toko buku, kedai kopi, pasar loak, taman kota, atau sekadar mengobrol dan hang out dengan penduduk lokal maupun orang-orang asing yang saya temui dalam perjalanan. Biasanya, mereka membawa kisah kehidupan yang menarik. Banyak di antara mereka masih menjadi kawan baik hingga sekarang. Bagi saya, hal inilah yang membuat sebuah perjalanan berarti. Bukan tentang berapa banyak monumen atau landmark yang sudah saya kunjungi, tetapi lebih tentang koneksi antar manusia. When you arrive as a stranger and depart as a dear friend. That’s my most precious souvenir.

Bermain Guitar Heroes di Omega Sector bersama anak-anak SMA, Ulan dan Tima | Almaty, Kazakhstan.

Bermain Guitar Heroes di Omega Sector bersama anak-anak SMA, Ulan dan Tima | Almaty, Kazakhstan.

Sekarang lagi sibuk apa sih?
Saya masih bekerja sebagai Creative Director di sebuah konsultan komunikasi di Jakarta. Senangnya, saya bisa bekerja dari mana saja—selama ada koneksi Internet. Karena tidak perlu datang ke kantor setiap hari, saya bisa bekerja dari mana saja, termasuk dari tempat-tempat yang saya kunjungi ketika sedang traveling. Di samping itu, saya dan seorang kawan baru-baru ini memulai jasa fotografi dan videografi untuk pre-wedding. Sejauh ini sudah ada tiga klien, padahal rencananya jasa ini baru akan resmi diluncurkan pada bulan Mei. Saya juga tengah menulis sebuah travelogue untuk diterbitkan sekitar bulan Juni, dan sebuah novela untuk diterbitkan akhir tahun ini. Di sela-selanya, saya masih aktif bersama kawan-kawan di Coin A Chance!—mengumpulkan koin untuk membantu anak-anak yang hampir putus sekolah agar bisa melanjutkan pendidikan mereka. Semua ini dilakukan seraya traveling ketika waktu dan tabungan sama-sama memadai.

Ceritakan tentang pengalaman pertama kali travelling.
Pertama kali traveling, saya mendaftar Plesiran Tempo Doeloe-nya kawan-kawan Sahabat Museum. Sendirian. Waktu itu kami pergi ke Bandung dan menyusuri banyak tempat bersejarah di sana. Baru di perjalananlah saya berkenalan dengan sesama peserta. Inilah pertama kalinya saya bepergian ‘sendirian’ dan ternyata saya menikmatinya, meninggalkan rombongan untuk duduk melamun di halaman Vila Isola dan berputar-putar di Boscha.

Rencana travelling berikutnya ke mana?
Awalnya saya merencanakan pergi ke London sekitar bulan Juni. Kebetulan dua kawan baik saya tinggal di sana, dan sejak lama, kota yang muram dan berhujan itu sudah menarik perhatian saya. Tetapi minggu ini, di Labuan Bajo, Flores, saya bertemu kawan saya, Alex. Kami pertama kali bertemu di Kuala Lumpur, ketika sama-sama sedang traveling di sana. Alex orang Rusia, tetapi dialah yang mengantar saya berkeliling Labuan Bajo. Sudah 6 bulan dia bekerja di sini, dan selama 1.5 tahun dia sudah menjelajahi Indonesia, mulai dari Aceh sampai Papua. Alex sudah melihat lebih banyak sisi Indonesia daripada saya—yang jelas-jelas orang Indonesia. Jadi, saya putuskan, tahun ini dan tahun depan, saya ingin mengeksplorasi Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Negeri ini punya segalanya, dan saya ingin mengabarkan keindahannya pada dunia.

Menikmati dermaga di pagi hari | Pulau Sebayur, Flores

Menikmati dermaga di pagi hari | Pulau Sebayur, Flores

Baru-baru ini ada banyak insiden yang terjadi di India yang melibatkan korban wanita. Kamu kan baru berkunjung ke India sendirian, apa yang akan kamu sarankan kepada solo female traveler dari Indonesia yang mau berkunjung ke India?
Ya, baru-baru ini saya berkunjung ke India sendirian, menghabiskan sekitar 10 hari di sana: Mumbai, Delhi, Agra dan Jaipur. Saya tahu, banyak berita mengenai insiden yang melibatkan korban perempuan di sana. Tetapi di sisi lain, saya juga tahu, bahwa di Indonesia sendiri, kita banyak mendengar berita mengenai perkosaan di angkot atau pelecehan di dalam kereta komuter. Banyak hal buruk terjadi di berbagai belahan dunia, bukan hanya di India. Di Mumbai, saya bertemu seorang pemuda India bernama Saransh. Usianya 22 tahun. Ia berasal dari Noida, tetapi sekarang bermukim di Delhi. Bersama beberapa kawannya, ia meluncurkan sebuah gerakan bernama GotStaredAt. Lewat gerakan ini, pemuda-pemuda India ingin menyampaikan pesan bahwa tidak ada alasan yang bisa dibenarkan untuk melecehkan perempuan. Saransh mengatakan bahwa insiden yang belakangan ini ramai diberitakan di India justru membuat banyak orang lebih sadar diri dan berhati-hati, sehingga tindakan pelecehan di tempat umum justru berkurang.

Berbelanja aksesoris, sarung bantal, syal, dan kurta di Khan Market | Delhi, India

Berbelanja aksesoris, sarung bantal, syal, dan kurta di Khan Market | Delhi, India

Saran saya kepada solo female traveler dari Indonesia yang hendak berkunjung ke India, berpakaianlah sesuai dengan norma-norma di sana. Kurta yang dipadukan dengan jeans akan sempurna untuk melindungi diri dari debu, panas matahari, maupun perhatian yang tidak diinginkan. Jangan nampak tersesat atau kebingungan. Berpura-puralah percaya diri, atau sedang menunggu seseorang ketika tengah mencoba mencari arah. Bertanyalah kepada penjaga restoran cepat saji, pelayan toko di mall atau pusat perbelanjaan, atau resepsionis di hotel yang bagus.

Selain itu, pastikan kita bisa melakukan panggilan telepon untuk keadaan darurat. Ini akan membuat kita merasa lebih aman. Tinggalkan informasi mengenai ke mana kita akan pergi kepada keluarga di rumah, atau kepada penjaga penginapan. Pilih penginapan dengan hati-hati, baca rekomendasi dari beberapa situs review, dan pastikan daerah sekitarnya merupakan daerah yang cukup aman. Carilah teman untuk bepergian bersama: apakah sesama traveler yang dikenal di penginapan, atau penduduk lokal. Di India, Malaysia, dan Ukraina, saya bepergian bersama beberapa penduduk lokal yang saya hubungi lewat situs Couchsurfing. Mereka biasanya dengan senang hati akan mengantar dan mengajak kita berkeliling kota. Dan ngomong-ngomong, dilecehkan ketika sedang berjalan kaki sendirian justru sering saya alami di Jakarta atau Kuta—bukan di India.

Makan malam di restoran bertema Soviet bersama Kyryl (yang saya kenal lewat Couchsurfing), pacarnya Ieugenia (kiri), juga Inna (kanan) dan kawannya, Anna (berkacamata) | Kiev, Ukraina

Makan malam di restoran bertema Soviet bersama Kyryl (yang saya kenal lewat Couchsurfing), pacarnya Ieugenia (kiri), juga Inna (kanan) dan kawannya, Anna (berkacamata) | Kiev, Ukraina

Kapan mulai ngeblog?
Pertama kali berkenalan dengan blog sebenarnya tahun 2002. Tetapi mulai rutin menulis blog sejak tahun 2005.

Apa alasan kamu ngeblog?
Saya selalu suka menulis. Saya menulis di mana-mana. Buku catatan, buku catatan orang lain, kertas bekas, bon, tiket pesawat. Lalu ada blog. Untuk saya, blog adalah tempat lain untuk menulis.

Cara travelling kamu sperti apa? Backpacking, flashpacking or luxury?
Tergantung mood, sebenarnya. Kalau sedang ingin bertualang dan punya biaya terbatas, saya menggabungkan backpacking dengan luxury. Misalnya, 5 hari di hostel, lalu 2 hari terakhir istirahat di hotel yang bagus. Kalau sedang lelah dan ingin liburan santai, saya memilih Bed & Breakfast atau hotel-hotel bagus yang sedang diskon di situs-situs seperti Agoda. Harganya bisa setengah dari harga biasa, jadi lumayan hemat. Memang, biasanya harga diskon ini tidak termasuk sarapan. Tetapi toh sarapan saya setiap hari cukup secangkir kopi saja.

Kadang-kadang, negara yang ingin saya kunjungi juga menjadi pertimbangan. Di Eropa Barat misalnya, saya akan jauh lebih percaya diri untuk memilih backpacking dan menginap di backpacker’s hostel daripada di India. Sewaktu traveling di Malaysia, di Kuala Lumpur dan Ipoh saya menginap di rumah penduduk lokal lewat situs Couchsurfing. Jadi, saya sudah mencoba berbagai cara. Yang jelas, saya tidak terlalu suka bepergian terburu-buru. Saya lebih suka tinggal di satu tempat saja selama satu minggu daripada berpindah-pindah setiap dua-tiga hari.

Apa tujuan wisata impian kamu dan kenapa pengen ke sana?
Santorini, Yunani. Sejak dulu saya selalu melihat foto-fotonya, dan merasa takjub: kok ada tempat di dunia yang seindah ini, bangunannya putih, kotak-kotak dan bertumpuk-tumpuk seperti mainan. Akhirnya, saya menghabiskan seminggu di Santorini. Pulau kecil yang artistik dan menyenangkan. Sekarang saya bingung mencari tujuan wisata impian baru, karena Santorini sudah bisa dicoret dari daftar impian. Satu tempat tujuan yang ingin saya datangi sekarang adalah Hunza Valley di area Gilgit-Baltistan, Pakistan. Tempat itu luar biasa indah. Seharusnya saya pergi ke sana tahun lalu, tetapi terpaksa batal karena pada bulan yang dijadwalkan, kondisi di Gilgit sempat memanas dengan konflik sektarian Syiah-Sunni. Saya juga ingin sekali pergi ke Iran, Afghanistan, dan Lebanon. Saya selalu berpikir tempat-tempat ini punya lebih banyak sisi menarik yang bisa diceritakan daripada yang biasa kita lihat di koran atau televisi. Masalahnya, mendapatkan visa ke tempat-tempat ini tidak mudah.

Sebutkan lima barang yang wajib kamu bawa setiap kali travelling
Kamera DSLR. Buku catatan dan bolpen. Telepon genggam. Traveling pouch (uang, paspor, tiket pesawat, catatan booking hotel, alamat). Deodoran (paling penting, terutama untuk dibawa hiking)

Akhirnya sampai juga di mercu suar setelah mendaki selama 3 jam. Di sinilah deodoran diperlukan | Penang, Malaysia

Akhirnya sampai juga di mercu suar setelah mendaki selama 3 jam. Di sinilah deodoran diperlukan | Penang, Malaysia

Sebagai ucapan terima kasih atas kesediaannya dijadikan profil travel blogger bulan Mei, silakan boleh promosi apa saja dalam 1 paragraf:
Tahun ini, jika segalanya berjalan lancar, travelogue saya akan diterbitkan. Sebenarnya saya lebih senang menyebutnya my personal travel notes. Karena isinya lebih ditekankan kepada pengalaman pribadi dan pemikiran-pemikiran saya selama perjalanan ketimbang tips-tips atau panduan praktis mengenai negara yang didatangi. Jadi, tunggu kabar berikutnya, ya, di beradadisini.com atau lewat akun Twitter @beradadisini. Kalau teman-teman punya rekomendasi mengenai tujuan wisata/budaya yang indah—tetapi masih jarang didengar orang di Indonesia, mention saya di Twitter dan beri tahu, ya! Siapa tahu kita bisa bertemu ketika saya pergi ke sana! Oh ya, saya juga sedang kepingin punya kamera pocket kecil untuk dibawa-bawa bepergian, jadi kalau ada yang mau menghadiahkannya, dengan senang hati! 😀


Terima kasih Hanny! Jangan lupa mampir ke blog dia dan follow her on twitter!

Join the discussion 5 Comments

Leave a Reply