Profil Travel Blogger: Windy Ariestanty

By January 3, 2013Profil Travel Blogger
Demi Hasedera Temple yang berisi patung-patung Buddha lucu dan imut ini, saya mencoret Disneyland dari daftar dan memutuskan mengejar kereta ke Kamakura, the home of samurai

Kami lanjutkan seri Profil Travel Blogger bulan ini dengan seorang traveler dan juga blogger (karena dia punya blog) tapi dia bukanlah seorang travel blogger. Windy Ariestanty merupakan penulis buku Life Traveler, sebuah travelogue mengenai kisah-kisah perjalanan yang dialaminya, sekaligus juga seorang editor. Windy telah menjelajahi dunia cukup luas, termasuk saat dia hidup di tempat yang dihuni oleh orang-orang native American dan traveling ke daerah terpencil di Vietnam untuk mengunjungi suku-suku pedalaman yang memiliki gaya hidup sederhana.

Kami mencoba mencari tahu kenapa seorang Windy suka mengunjungi tempat-tempat yang jarang dikunjungi oleh kebanyakan orang, mungkin karena takut. Dan jawaban-jawaban Windy sangatlah memberikan pencerahan! Yuk ikuti keseruan kisah Windy!

Entah di mananya Bali ketika melakukan 'journey to nowhere'. Capek nyetir dan bingung mencari jalan, akhirnya istirahat di sawah dan bermain dengan gadis cilik ini

Entah di mananya Bali ketika melakukan ‘journey to nowhere’. Capek nyetir dan bingung mencari jalan, akhirnya istirahat di sawah dan bermain dengan gadis cilik ini


Name: Windy Ariestanty

Twitter: @windyariestanty

URL: windy-ariestanty.tumblr.com tapi rencananya 13 januari 2013 akan pindah ke rumah baru: windyariestanty.com

Kota Asal: Saya penduduk bumi dan penghuni semesta. Nggak punya kota asal. 😉

Domisili: Saat mengetik ini masih menumpang hidup di Jakarta

Ceritakan sedikit tentang Windy Ariestanty
Seorang penulis sekaligus editor yang menyukai membaca, menonton manusia, traveling, dan pertemuan. Mulai dari bertemu ketidaktahuan, bertemu teman baru, atau bertemu apa saja, termasuk kesialan.

Gara-gara business trip ke Eropa bisa bermain salju di Gunung Titlis, Swiss, dan menginap di salah satu hotel terbaik di Lucerne

Gara-gara business trip ke Eropa bisa bermain salju di Gunung Titlis, Swiss, dan menginap di salah satu hotel terbaik di Lucerne

Sekarang lagi sibuk apa sih?
Sedang sibuk bermain dengan banyak hal agar kreativitas terus terasah. Saya pecandu tantangan baru. Buat saya berhenti sama dengan mati. Juga lagi sibuk travel around the words alias menulis buku terbaru. Semoga bisa terbit pada tahun 2013. Can I get amen for that? 😉 (ed: amen, sista!)

Ceritakan tentang pengalaman pertama kali travelling
Hm, pertama traveling sih waktu kecil, ikut Papa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain karena pekerjaannya. Tapi, pertama kali traveling sendirian itu waktu kelas 6 SD dari Blitar ke Palembang dengan menaiki bus ekonomi selama dua hari-dua malam. Sejak pengalaman ini, saya jadi berani pergi ke mana-mana sendirian karena dunia di luar sana itu seperti taman bermain yang luas! Sampai sekarang saya memang melihat segala sesuatu seperti sebuah permainan. Dengan begitu, dunia terasa seru!

Kalau pertama kali traveling sendirian ke luar negeri, waktu ke USA. Benar-benar sendirian dan tak ada seorang pun yang saya kenal di USA. Waktu itu saya masih kuliah dan sengaja cuti kuliah selama setahun untuk ke USA. Saya hanya mengantongi uang sebanyak USD500 untuk hidup 3 bulan. Uang beli tiket PP saya pinjam dari Papa. Selama di USA saya kerja sambilan untuk bisa traveling, hidup, dan mengganti uang Papa yang saya pinjam. Semuanya terwujud! Itu salah satu pengalaman yang paling berharga buat saya. Karena sejak saat itu, selain keinginan untuk melihat lebih banyak lagi dari dunia ini kian membesar, saya juga jadi paham: it’s hard to make a comeback when I haven’t been anywhere. Perjalanan ini yang kemudian membuat saya meredefinisi konsep pergi, pulang, rumah, dan perjalanan itu sendiri.

Rencana travelling berikutnya ke mana?
Kalau Indonesia, pengin banget bisa menjelajah Flores. Overland! Sedangkan kalau luar negeri, pengin menjelajahi Maroko-Spanyol-Portugal. Sementara, dua itu rencana besar yang ada di agenda traveling 2013 saya. Maunya sih 2013 juga bisa mengunjungi London Book Fair. Hehehe. So that’s why I collected 40 amens—and I got more than 40, almost 100 amens on twitter. Haha! For some people that’s just a myth and silly. For me, that’s just my simple way to make it fun while I run after my dreams.

Demi Hasedera Temple yang berisi patung-patung Buddha lucu dan imut ini, saya mencoret Disneyland dari daftar dan memutuskan mengejar kereta ke Kamakura, the home of samurai

Demi Hasedera Temple yang berisi patung-patung Buddha lucu dan imut ini, saya mencoret Disneyland dari daftar dan memutuskan mengejar kereta ke Kamakura, the home of samurai

Waktu kamu travel ke Vietnam dan Jepang, kamu mengunjungi tempat-tempat yang tidak biasa untuk Orang Indonesia. Ceritakan tentang mengapa kamu suka mengunjungi tempat seperti itu. Apakah trip seperti ini lebih memorable untuk kamu?
Pada dasarnya saya memang suka alam, budaya, manusia, dan penikmat suasana—tak peduli itu di tengah kota besar atau nongkrong di tengah sawah sambil melihat kunang-kunang.

Buat saya bisa melakukan perjalanan dan menikmati ketiganya adalah hal yang paling menyenangkan. Jadi, orientasi dalam perjalanan saya sudah bukan lagi tempat. In the end, we should go beyond destinations, me thinks.


Saya sengaja kembali ke Vietnam, khusus untuk mengunjungi Sa Pa karena di sana hidup suku-suku minoritas. Saya menyukai pengalaman saya berbaur dengan beragam suku Hmong dan ikut makan bersama mereka di tengah pasar Bac Ha yang penuh warna karena setiap suku hmong memiliki identitas pada atribut mereka, mulai dari warna pakaian, topi, dll. Saya menyukai itu semua. Perjalanannya, interaksinya, pertemuannya.

Bertemu suku black hmong ketika trekking di Sa Pa, Vietnam

Bertemu suku black hmong ketika trekking di Sa Pa, Vietnam

Mengeksplorasi Hakone (kota kecil di dekat Gunung Fuji), Jepang sangat menyenangkan. Kami sengaja mengubah jadwal dan rute ketika mengetahui bahwa di Hakone ada The Museum of Saint-Exupery’s the Little Prince. Ini salah satu buku favorit saya dan teman-teman (waktu itu saya bersama 3 teman). Hakone dan daerah sekitar Gunung Fuji memiliki pemandangan alam yang menarik buat saya. Kalau Kyoto sarat budaya (dan saya suka sekali Kyoto!), maka di sini justru alamnya. Umumnya, pejalan dari luar Jepang datang ke sini karena mereka ingin melihat dan melakukan hiking di Gunung Fuji.  Belum terlalu banyak yang tahu kalau daerah-daerah sekitar kaki Gunung Fuji ini adalah ‘taman bermain’ yang jauh dari membosankan.

Tapi, buat saya, yang membuat perjalanan menjadi memorable bukan sekadar lokasi atau apa yang saya lihat, melainkan apa yang saya alami selama perjalanan. Trip seperti apa pun akan selalu memorable untuk pelakunya selama ia mengizinkan dirinya ‘mengalami’. Mengalami, itu yang menurut saya menghidupkan sebuah perjalanan dan membuat ia tidak pernah berakhir di dalam ingatan, sekalipun perjalanannya sendiri sudah usai.

Di sela-sela business trip ke Beijing, sempat 'kabur' ke tembok cina dan bertemu kawan baru dari Venezuela yang satu mobil ke sana

Di sela-sela business trip ke Beijing, sempat ‘kabur’ ke tembok cina dan bertemu kawan baru dari Venezuela yang satu mobil ke sana

Kapan mulai ngeblog?
Sekitar 2005. Sempat berganti blog beberapa kali karena alasan yang tidak cukup membanggakan: lupa bayar dan… lupa password. Hehehe. Karena diprotes para pembaca setia blog, akhirnya saya memutuskan posting tulisan di note facebook. Lalu memutuskan bikin tumblr sembari merancang ‘rumah virtual’ baru yang bernama windyariestanty.com. Kali ini tentunya disertai dengan janji nggak bakal lupa bayar dan lupa password.


Apa alasan kamu ngeblog?
Melatih diri agar tidak berhenti.  Belajar disiplin dan terus berlatih menulis. Merekam cerita (bisa dalam bentuk foto dan tulisan). Menghidupkan ide. Itu empat alasan utama saya ngeblog.

Kalau soal berbagi dan menginsipirasi, sejujurnya, saya tidak punya niat semulia itu.  😀

Cara travelling kamu seperti apa? Backpacking, flashpacking or luxury?
Semuanya. Hahaha! Saya melakukan ketiganya. Pekerjaan membuat saya harus melakukan perjalanan ke banyak tempat di dalam dan luar negeri. Ketika sedang business trip tentunya saya mendapatkan semua fasilitas yang kalau harus merogoh kocek sendiri, saya sih sayang. Setiap melakukan business trip, saya akan segera merancang jadwal agar tetap punya waktu ‘bermain-main’ di sela-sela waktu kerja. Nah, jadilah saya flashpacking pada tataran ini karena harus sangat pandai mengatur waktu.

Kalau sedang jalan sendiri, saya bisa melakukan backpacking dan flashpacking. Saya bisa mengombinasikan keduanya. Tapi, tak penting buat saya masuk ke golongan yang mana–memanggul ransel, menarik koper, atau ada di antara—karena bukan itu kan yang menghidupkan sebuah perjalanan?

Demi museum ini, rela berjalan kaki sejauh +/- 15 km sambil memanggul backpack pada subuh hari untuk mengejar bus pertama menuju Hakone dari Kawaguchiko, Mt. Fuji

Demi museum ini, rela berjalan kaki sejauh +/- 15 km sambil memanggul backpack pada subuh hari untuk mengejar bus pertama menuju Hakone dari Kawaguchiko, Mt. Fuji

Apa tujuan wisata impian kamu dan kenapa pengin ke sana?
Sebenarnya, saya ini kemaruk. Semua tempat adalah destinasi impian saya. Bahkan kalau ada yang menawarkan tiket ke Mars, saya tak akan berpikir dua kali untuk pergi ke sana. ;p

Tapi, kalau harus menyebutkan dengan spesifik, maka jawabannya Tibet. Sedari kecil saya memimpikan ke Tibet dan mengumpulkan uang untuk bisa ke sana. Namun, setelah uang terkumpul, saya tidak juga pergi ke sana. Saya khawatir, mimpi yang saya hidupkan sejak kecil akan segera berakhir. Jadi, saya putuskan untuk berkeliling mengunjungi tempat mana saja di dunia ini terlebih dahulu sebelum akhirnya tiba di sana. Saya bisa saja membeli ‘tiket’ yang langsung membawa saya ke Tibet, tetapi sepertinya itu kurang seru. Jadilah, saya mengambil jalan berputar. Ini ibarat naik haji buat saya, dilakukan ketika mampu (tidak hanya secara finansial, tetapi juga mental. Hehehe)

Selain itu, menjajal Siberian trail ways dan menjejak Pulau Togean juga impian saya.

Sebutkan lima barang yang wajib kamu bawa setiap kali travelling?

  1. uang
  2. kamera
  3. rasa ingin tahu
  4. pikiran yang terbuka
  5. senyum!

Sebagai ucapan terima kasih atas kesediaannya dijadiin profil travel blogger bulan Jan, silakan boleh promosi apa saja:

Kalau lagi ke toko buku dan menemukan buku Life Traveler, jangan ragu dibeli yaaaa. 😉


Terima kasih Windy! Pastikan check out Windy’s blog, follow her on twitter and give her an Amen in the comments. Oh yeah buy her books too. 🙂

Join the discussion 4 Comments

  • dinoy says:

    great sharing! inspiring so much! 🙂

  • Ratri says:

    Yeayyy! Windy Ariestanty! I ever met her in a writing workshop in Yogya -my homeland forever- was and at that moment, maybe, only I am just found out about her for the for the first time he-he-he. After that, I got Life Traveller and read. It’s so impressed me much. Awaken my personal spirit to make a long-whole world- travel.

  • Kharis says:

    What’s up Adam? wawancara yang keren bersama Mba Winddy. Beruntung sempat mengkonsumsi buku Study Abroad and Life Traveler. Tentunya sempat berjumpa langsung dengan mba Windy saat di Jogja (gara-gara Bara “Radio Galau FM”) dan tak luput ikutan seminar creative writing di UNY tahun lalu. Saya rasa pertemuan itu adalah titik balik yang menginspirasi diriku.

    Sangat mengesankan kisah-kisah di PergiDulu dot com

    SUCCESS ADAM and SEE YOU ON TOP

  • mardian says:

    dulu aku pernah baca tumblr mbak windi yang http://windyariestanty.tumblr.com/, tapi sekarang kayaknya udah mati yah

Leave a Reply