Sapu Lidi Makan di Sawah, Lembang

Sapu Lidi Makan Di Sawah

Dulu pernah ada yang namanya Sapu Lidi Cafe di Jalan Cihampelas Bandung. Terus pas buka Sapu Lidi Makan di Sawah baru sempet nyobain ke sana beberapa tahun kemudian alias telat banget. Anyway, meskipun sudah lama banget eksisnya, Sapu Lidi Makan di Sawah masih tetap populer sampai sekarang. Di akhir pekan ramai banget sampai susah cari tempat, tapi di hari biasa pun ga kosong-kosong amat.Suasana Sejuk Di Sapu LidiSesuai dengan judulnya, restoran ini memang memiliki nuansa seperti makan di sawah. Sebenarnya sawahnya ga terlalu banyak sih, malah lebih banyak balong (kolam ikan)-nya. Yang pasti memang nuansanya dibuat se-rustic mungkin dengan banyaknya unsur kayu dan daun.

Di bagian tengah ada sebuah sepeda tua di depan tiang yang diselimuti sapu lidi. Selain bangunan besar untuk ruang makan utama di depan, hampir semuanya diisi dengan saung-saung dengan cara makan lesehan.Saung Saung Lesehan Di Sapu LidiSaung-saungnya tersembunyi di antara rimbunnya pepohonan yang ada di area tersebut. Jalan setapaknya pun berupa bebatuan yang kadang ditumbuhi rumput. Di sana sini ada jembatan-jembatan kecil terbuat dari kayu untuk menyeberangi balong. Entah memang sudah tua atau memang sengaja dibuat bernuansa jadul, kayu-kayunya sudah terlihat berlumut namun masih cukup kokoh. Beberapa aliran sungai kecil terdengar di sudut-sudut balong, membuat suasana Sapu Lidi Makan di Sawah menjadi sangat damai dan menyejukkan.Banyak Jembatan Kayu Di Sapu Lidi Lembang


Makan apa di Sapu Lidi Makan di Sawah?

Tema makanan di Sapu Lidi Makan di Sawah adalah masakan Sunda. Beberapa menunya bahkan diberi judul dalam bahasa Sunda. Tapi tidak usah khawatir karena di bawah judul menu ada penjelasan singkat mengenai makanan tersebut dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.Aula Utama Untuk Area MakanSeperti biasa, kami makan di meja biasa karena Adam kurang suka makan sambil lesehan. Kami pesan nasi goreng cikur, lotek dan jamur jadi ngeunah. Nasi goreng cikur memang jadi khas menu Sunda. Cikur sendiri adalah bahasa Sunda untuk kencur. Biasanya kalau masak pakai cikur terasa wangi khas cikur dan ada sensasi hangat.

Nasi goreng cikurnya disajikan pakai telur dadar dan sepotong ayam goreng. Loteknya cukup besar porsinya, sayuran dan bumbu kacangnya juga pas, ditambah krupuk yang juga tidak pelit. Lotek ini sayurannya sudah direbus, kalau lebih suka¬†sayur mentah bisa pesan karedok, bumbu kacangnya sih sama saja dengan bumbu lotek.Makanan Sunda Di Sapu Lidi LembangNah…apa pula itu “Jamur Jadi Ngeunah”? Terjemahannya adalah “Jamur Jadi Enak”. Kenapa bisa jadi enak? Rupanya ini adalah jamur tiram yang digoreng tepung kemudian dibalur bumbu kecap dan dibakar sehingga ada beberapa bagian yang agak hangus-hangus. Yummm… Porsinya juga cukup besar, apalagi kalau hanya untuk 2 orang. Untuk minumnya kami pesan es teh tawar saja. Uniknya, teh tersebut disajikan menggunakan cangkir aluminium jaman dulu. Yang dicat putih dan ada gambar bunga itu loh.

Ada Apa Lagi di Sapu Lidi Makan di Sawah?

Selesai makan sebelum pulang jangan lupa mampir dulu ke area depan yang ada banyak jual oleh-oleh. Di meja-meja ada berbagai jenis cemilan mulai dari manisan, brownies sampai es lilin. Di dalam bangunan ada deretan oleh-oleh berupa snack khas Bandung/Lembang serta kerajinan tangan seperti tas, T-shirt, lukisan, kalung, gelang, dll.Oleh Oleh Di Sapu Lidi LembangMasih belum puas menikmati suasana damai di Sapu Lidi Makan di Sawah? Di bagian belakang ada Sapu Lidi Resort. Lokasinya terpisah dari area restoran jadi tidak usah khawatir berisik kalau restoran sedang banyak tamu. Untuk review Sapu Lidi Resort bisa dilihat di postingan di sini.

Sapu Lidi Makan di Sawah
Komplek Graha Puspa, Cihideung, Lembang
Jam buka: setiap hari 10.00-23.00

Harga: Nasgor Cikur Rp30.000; Lotek Rp 21.000; Jamur Jadi Ngeunah Rp24.000 (belum termasuk pajak 5% + 10%)

Leave a Reply