Share your dreams with the one you love

Everyone loves to play in the snow!

“Terus abis ini mau kemana lagi?” Tanya sahabat-sahabat saya setelah saya keluyuran di Thailand (plus Laos dan Kamboja) selama 4 bulan dan baru pulang ketika ada demo ‘red shirt’.
“Pengin ke Eropa!” Jawab saya mantap.
“Terus kapan kawinnya?”
“Pokoknya pengen ke Eropa dulu deh. Abis Eropa udah ga akan pengin kemana-mana lagi deh.”

“Traveling mah ga akan ada abis-abisnya. Nanti abis Eropa pasti pengen ke tempat lain lagi.”

Walaupun sahabat saya waktu itu bermaksud menyindir, tapi memang ada benarnya juga. Dunia itu luas, walaupun dikasih umur sampai 100 tahun pun kayaknya belum puas menjelajahi dunia ini.

Waktu itu akhirnya saya mencoba menahan diri buat ga terlalu banyak traveling. Karena banyak pula pendapat berseliweran “Kalau traveling melulu, kapan pacarannya?” Repot banget ya tinggal di negara dengan culture yang mementingkan berkeluarga?! Semuanya ngurusin “Kapan kawin? Kapan kawin?”. Toh semuanya ada waktunya, ada yang cepat, ada juga selow-selow asal klakon (eh, salah ya peribahasanya?)

Sampai akhirnya saya ketemu Adam (cerita lengkapnya nanti aja ya, atau bisa baca secuplik wawancaur dari Roy Saputra di sini). Sejak menemukan kesamaan minat, yaitu traveling, kami dari awal langsung banyak diskusi tentang rencana traveling.

“Which country do you really want to visit?”
“Europe.”
“That’s not a country, that’s a continent.”
“Yes, all the countries in Europe!”

Entah kenapa saya kesengsem sama Europe, bukan karena di sana banyak negara-negara maju, tapi lebih karena budayanya yang beda banget. Kalau selama ini saya udah keliling-keliling Asia Tenggara dan menemukan budaya dan bahkan orang-orangnya pun mirip sampai sering diajak ngobrol bahasa lokal, mudah-mudahan di Berlin saya tidak ditanya-tanya dalam bahasa Jerman.

Adam sih katanya sudah pernah ke beberapa negara di Eropa waktu muda dulu (cieh…waktu masih muda!), tapi yang bikin saya tercengang waktu kami kencan kedua dan ngomongin tentang dream country adalah dia tiba-tiba merespon “I’ll go to Europe with you!” Di jaman saya suka traveling sendirian dulu itu susah banget nemuin traveling partner (makanya saya jalan sendiri!). Teman-teman lokal biasanya susah nyocokin jadwal cuti yang terbatas, sedangkan teman-teman bule di tempat kerja biasanya lebih independen alias ga terlalu suka rame-rame kalo mau eksplor suatu tempat.

Alhasil dari sana hubungan kami berkembang dan pada saat merencanakan honeymoon langsung lah Eropa dipilih sebagai tujuannya. Namun karena terpentok masalah ribetnya ngurus visa Schengen untuk pemegang paspor hijau sekaligus ngurus pernikahan, akhirnya kami menyerah dan pilih New Zealand & Australia saja sebagai tujuan backpackneymoon kami.

Kenapa kami bilang sulit untuk mengurus visa Schengen padahal sudah banyak orang Indonesia yang pernah ke Eropa? Masalahnya gaya jalan-jalan kami adalah slow traveling. Kalau biasanya orang ke Eropa beberapa hari atau beberapa minggu saja, kami penginnya maksimal. Semaksimal visa yang diberikan. Dan repotnya lagi, saya ga punya satu pun sanak saudara atau teman dekat yang tinggal di Eropa dan ga punya kantor yang bisa memberikan surat jaminan kerja.


Untungnya dengan ketelatenan Adam, dia berhasil menyusun aplikasi visa Schengen lengkap dengan surat pengantar yang menjelaskan semua rencana kami selama di Eropa serta argumen-argumen kuat yang menjamin kami tidak akan menyalahgunakan visa. Alhasil tanggal 27 Juni 2013 kemarin saya digranted visa Schengen multiple entry untuk 90 hari yang bisa digunakan mulai 23 Juli 2013 sampai dengan 22 Januari 2014. Prosesnya singkat tapi cukup menegangkan karena kami apply tanpa menggunakan tur agen (langsung ke vfs Spanyol), tidak ada booking akomodasi setiap hari (cuma ada 5 hari di awal trip), tidak ada surat keterangan kerja (karena memang saya tidak ada kerja kantoran). Dalam 4 hari sudah ada email tentang keputusan visa padahal saya deg-degan menunggu panggilan interview. Ternyata ga diinterview pula!

Finally, my dream is coming true! Thanks to my beloved husband, Adam.


Lah, terus bagian ‘sharing the dream’-nya dimana dong? Jadi ceritanya perjalanan kami ke Eropa ini bukan cuma untuk mewujudkan mimpi saya semata, namun sekalian juga mewujudkan mimpi Adam, yaitu Camino de Santiago de Compostela. Adam sebenarnya bukan seorang yang gila jalan kaki, namun entah kenapa dia tertarik untuk menjalani perjalanan sejauh 750 km lebih dari perbatasan Perancis-Spanyol sampai ke Santiago de Compostela. Setiap orang punya alasan masing-masing dan saya pun setuju untuk mewujudkan mimpinya itu karena toh tidak ada hal yang jelek dari perjalanan ziarah itu. Badan jadi sehat, pengalaman jadi kaya, dan katanya sih banyak yang dapat ‘enlightenment’ dalam perjalanan ini. “You would never be the same person after this jouney.” Dan saya percaya, we would be better people.

Buat yang penasaran bagaimana sih Camino ini, sebetulnya sudah banyak buku-buku luar yang menuliskan tentang ini. Namun ada 1 film yang pernah kami tonton bersama, judulnya ‘The Way’, mengisahkan perjalanan Camino de Santiago de Compostela yang dilakukan oleh beberapa orang. Masing-masing punya kisahnya sendiri. Dan kami pun akan punya kisah sendiri untuk diceritakan.

Mungkin pencapaian mimpi ini terasa ‘oh….so sweet‘, namun kenyataannya kami masing-masing harus kerja keras untuk saling mewujudkan mimpi kami. Adam sempat stress dalam menyiapkan dokumen-dokumen untuk visa Schengen saya. “Why is it so difficult for Indonesian people (read: Indonesian passport) to travel abroad?” tanya Adam pada rumput yang bergoyang. Ya maklum lah untuk orang Australia ke Eropa tidak perlu visa sama sekali. Tinggal nongol di airport sana dan langsung dapat cap 90 hari.

Sedangkan untuk saya sendiri, sempat stress waktu awal-awal latihan jalan kaki. Adam bersikukuh harus membiasakan jalan kaki dari sekarang karena nantinya kami akan jalan kaki dengan rata-rata 25 km setiap harinya selama 30-35 hari. Karena biasanya kami bukan orang yang pecinta marathon ataupun olahraga, kami harus memaksakan diri untuk melatih tubuh kami. Alhasil saya sempat mengecewakan Adam dengan menolak untuk jalan kaki di sekitar kompleks rumah selama 1 jam. Saya tidak nyaman jalan kaki di kompleks rumah dimana banyak kendaraan lalu lalang, polusi udara dan orang-orang yang ‘menonton’ kami. Akhirnya solusinya adalah kami jalan kaki di Lapangan Atletik Saraga ITB, mulai dari 1 jam per hari, ditambah jadi 2 jam per hari, sampai puncaknya kemarin jalan kaki sekitar 6.5 jam dengan rute Dago-Maribaya-Dago 2 kali bolak-balik. Sampai-sampai tukang ojek tanya.”Kenapa balik lagi?” Kami pun cuma bisa cengengesan dan jawab, “Hehehehe…..lagi latihan, Pak!”

So yeah, kalau kamu baca tentang #EuropeDulu ataupun #CaminoDulu, ini bukan sekedar jalan-jalan ke negeri orang ataupun foya-foya di negera maju. Perjalanan ini merupakan perwujudan mimpi kami berdua yang sudah kami persiapkan jauh sebelum kami bertemu. Mohon doanya supaya semuanya lancar, yang penting diberikan kesehatan oleh Tuhan dan selalu dilindungi dalam setiap perjalanannya. AMIN!

What’s your dream? Share it with the one you love! 🙂

Join the discussion 9 Comments

  • DebbZie says:

    Good luck Adam & Susan! Ga sabar pengen baca cerita2 kalian tentang benua favorit aku.
    Well, I have so many travel related dreams but no one to share with (lahhh kok curcol) hahahaha ;p

  • morishige says:

    di filmnya, saya lihat treknya memang jauh sekali. sampai2 melintasi garis batas pergantian bahasa. pasti akan banyak sekali kisah yg akan bisa diceritakan. 🙂

  • Moersalijn says:

    Kalo jadi ke Berlin, Kabarin saya ya. kalo sempat saya ajak jalan2, kalo gk ntar minimal bisa ketemuan dsni 🙂

  • Cincha says:

    Semoga berhasil menggapai impian. Amin! Take care..

  • iya, aku pernah lihat movie ttg perjalanan ke Camino de Santiago de Compostela 😀 sepertinya menyenangkan,,,
    that would be great adventure ,,,

  • vira says:

    aaawwww :”>
    ayooo semangaaatt jalan kaki teruuusss..! udah siap sepatu/sendal yg nyaman kan?
    kebayang deh pasti seru..
    AAAhh aku tak sabar pingin mewujudkan trip impian juga sama suami.. :”> Tapi kayaknya bakal susah kalo 90 hari :))
    Good luck, guys! Ntar pas pulang betisnya udah kuat tuh buat narik becak, lumayan buat sambilan :)))

    • Susan says:

      haha….thanks for the encouragement! 🙂
      Katanya sih semua yg abis ngejalanin ini langsung turun berat badannya….lumayan jadi penyemangat buat yg mau diet 😉
      Bisa lah 90 hari, kan mau freelance ;))

  • Sharon Loh says:

    Sweet!! Semoga aku bisa ke Europe juga setelah lulus kuliah 😀
    Btw bolak balik Maribaya – Dago 2 kali itu….. sesuatu. *ga bisa bayangin*

Leave a Reply