Tips Liburan ke Krakatau

Pulau Umang-umang berpasir putih di kepulauan Krakatau

Indah adalah guest writer untuk Pergi Dulu. You can follow her on twitter @indysimo and her blog www.herflightofideas.wordpress.com

Kepulauan Krakatau merupakan gugusan pulau vulkanik yang terbentuk dari letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Kepulauan ini meliputi Rakata atau Krakatau Besar, Panjang atau Krakatau Kecil, Sertung, dan Anak Krakatau. Untuk mencapai Kep.Krakatau yang berada di Selat Sunda melalui perjalanan laut dapat dilakukan dari kedua pulau besar utama Indonesia, Jawa dan Sumatra. Tanjung Priok yang berada di utara Jakarta merupakan satu titik akses dari Pulau Jawa. Sedangkan dari Pulau Sumatera, penyebrangan terdekat berada di wilayah Kalianda, Lampung Selatan yaitu Dermaga Canti. Perbedaan kedua titik akses ini terletak pada jarak dan waktu tempuh, jenis kapal yang digunakan serta biaya yang akan dikeluarkan.

Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau

Cara menuju Krakatau dari Sumatera

Dermaga Canti terletak sekitar dua jam perjalanan darat dari pelabuhan utama Bakauheni. Para pengunjung dapat menggunakan mobil angkutan umum yang disewa untuk mengantarkan mereka ke Dermaga Canti seharga Rp.150.000 per mobil untuk 10 orang penumpang. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kapal nelayan yang dapat disewa untuk menemani pengunjung selama 2 hari mengitari Krakatau seharga Rp.2.500.000 per kapal untuk 30 orang. Perjalanan selama satu jam menuju titik pertama yaitu Pulau Sebesi.

Pulau Sebesi adalah satu-satunya pulau berpenghuni di Kepulauan Krakatau. Terdiri dari jiwa, pulau nelayan ini bukan merupakan lokasi wisata komersial. Para pengunjung Krakatau dapat bermalam di Pulau Sebesi di rumah para warga yang disewakan atau guesthouse. Biaya akomodasi bervariasi sekitar Rp.200.000 per rumah untuk setiap malamnya.Tidak ada patokan harga sewa rumah warga disini, kesepakatan kekeluargaan dengan para pengunjunglah yang menjadi dasarnya.  Fasilitas listrik di pulau ini hanya tersedia mulai pukul 6 sore hari hingga tepat tengah malam.

Gunung Anak Krakatau (GAK) berjarak dua jam perjalanan laut dari Pulau Sebesi. Saya bertolak dari Pulau Sebesi menuju GAK pukul 3 dini hari berencana menyaksikan matahari naik ke pelatarannya dari lereng gunung vulkanik itu.

Mendaki lereng Gunung Anak Krakatau

Mendaki lereng Gunung Anak Krakatau

What to do in Krakatau

Salah satu aktivitas yang wajib dilakukan selama berada di Kepulauan Krakatau adalah wisata antar pulau atau island hopping. Kehidupan bawah laut yang cantik di kepulauan ini sangat sayang untuk dilewatkan. Snorkeling di perairan dangkal dan diving di perairan lebih dalam menjadi aktivitas laut favorit para pengunjung kepulauan eksotis ini. Apabila tidak memiliki alat snorkeling dapat menyewa di Pulau Sebesi. Beberapa titik snorkeling yang wajib dikunjungi adalah bibir pantai Pulau Sebuku, Pulau Geligi, dan Pulau Umang-Umang.


Memiliki dua sisi pantai berbeda menjadikan Pulau Umang-Umang yang unik ini salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Untuk mencapai pantai cantik berpasir putih yang halus dengan bebatuan besar di sisi pantai berterumbu karang, pengunjung harus berjalan melewati pantai berpasir karang selama 10 menit. Jangan biarkan pasir karang ini mengurungkan niat untuk mencapai sisi pantai pasir halus, pastikanlah menggunakan alas kaki. Karena kecantikan tersembunyi Pulau Umang-Umang ini menjadi sebuah lokasi spesial yang wajib dikunjungi kembali.

Pulau Umang-umang berpasir putih di kepulauan Krakatau

Pulau Umang-umang berpasir putih di kepulauan Krakatau

GAK bukan merupakan tujuan wisata. GAK adalah cagar alam, warisan dunia, maka dibutuhkan izin khusus yaitu Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) yang  bisa didapatkan di Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA Lampung). Sejumlah uang di donasikan oleh para pengunjung sebagai partipasi upaya pelestarian cagar alam ini. Aktivitas komersial tidak diperbolehkan di daerah ini, maka pastikan membawa logistik bahan makanan yang cukup. Dan yang paling utama, cagar alam ini adalah warisan yang harus dilestarikan, mulai dari hal sederhana, menjaga kebersihannya. Sepanjang trekking lereng GAK, kami saling mengingatkan untuk tidak membuang sampah dan memungut apabila ada sampah dijumpai.

Pasir hitam di pesisir pantai pulau vulkanik ini menjadi kecantikan tersendiri yang tidak dapat disandingkan dengan pantai manapun. Pasir hitam ini pula yang terhampar sepanjang lereng GAK Puncak GAK berada di ketinggian 230 mdpl. Trekking terasa menantang untuk saya karena tanah yang berpasir di lereng terjal tanpa pepohonan disertai udara bercampur belerang. Namun pemandangan yang terlihat dari atas lereng seiring matahari terbit sangat amat indah. It’s worth it.

Di salah satu sisi Pulau Rakata (atau yang juga dikenal dengan nama Pulau Ibu Krakatau), terdapat sebuah lengkungan yang berbentuk seperti cabai sehingga dinamai Legon Cabe (‘legon’ berarti lengkung dan ‘cabe’ berasal dari kata cabai) oleh masyarakat setempat. Titik ini, titik dengan kehidupan bawah laut paling cantik di Krakatau. Perairan hangat kepulauan vulkanik ini menjadi sarana terbaik untuk pertumbuhan terumbu karang dan biota laut lainnya. Salah satu surga bawah air kekayaan Indonesia yang harus dilestarikan.

Legon Cabe - surga bawah air di kepulauan Krakatau

Legon Cabe – surga bawah air di kepulauan Krakatau

Dua hari satu malam lamanya perjalanan saya mengunjungi Krakatau. Dan saya merasa belum puas mengelilingi kepulauan ini. Kecantikan yang memukau mulai dari atas langit hingga bawah air. Kecantikan yang menorehkan sejarah saat letusan di tahun 1883 yang sempat ‘menggelapkan’ dunia selama dua hari akibat tebal abunya. Kecantikan yang berbahaya. Yang merupakan warisan untuk kita yang harus kita jaga untuk dapat kita wariskan untuk generasi selanjutnya.

Leave a Reply