Tips Menghindari Penipuan di Maroko

By November 15, 2013Maroko
Stand jus jeruk yang menyegarkan di Marrakesh

Tidak bisa dipungkiri bahwa Maroko memiliki daya tarik magis melalui budayanya yang masih sangat kental. Suasana dongeng-dongeng 1001 malam terasa saat kami memasuki pusat kota tua di hampir setiap kotanya. Orang-orang lalu lalang dengan menggunakan jubah dan fes (peci merah khas Maroko). Wanita sangat jarang terlihat nongkrong di keramaian, sebaliknya pria-pria ramai memadati kafe-kafe hingga larut malam bahkan hingga subuh.

Salah satu gerbang medina di Fes

Salah satu gerbang medina di Fes

Namun sebagai orang awam yang menjejakkan kaki di negeri orang, ada baiknya kita waspada dengan perbedaan kultur tersebut. Bisa jadi karena perbedaan bahasa sehingga terjadi salah paham, perbedaan kebiasaan yang mengakibatkan protes dari masyarakat lokal maupun gesekan-gesekan yang ujung-ujungnya merugikan kita dan merusak mood liburan.

Selama 12 hari di Maroko, kami sangat menikmati keindahan alam dan keunikan budayanya. Namun ada beberapa hal kecil yang sedikit memberi warna dalam pengalaman kami menjelajahi benua hitam tersebut. Kami coba bagikan tips menghindari penipuan selama traveling di Maroko. Bukan berarti Maroko tujuan yang tidak bagus, namun lebih baik antisipasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Semuanya kami tulis berdasarkan pengalaman pribadi kami, semoga berguna!

1. Hitung uang kembalian

Beberapa kali kami menyadari bahwa uang kembalian yang diberikan kurang. Ketika kami tagih sisanya, beberapa dengan ekspresi datar memberikan sisanya. Namun ada yang terang-terangan menawar sambil senyum-senyum. Waktu itu kami mau beli air minum botol besar, ditawarkan dengan harga 10 dirham. Kemudian Adam menawar 6 dirham, dia bilang ‘ok’. Saat memberikan uang kembalian, dia cuma memberi 2 dirham sambil bilang, “It’s ok?” Tentu saja it’s not ok. Akhirnya dia kasih lagi 2 dirham *masih sambil senyum-senyum*.

Supir taksi juga sering mencatut uang kembalian, bahkan kepada orang lokal. Kami melihat sendiri saat duduk di kursi belakang dan seorang ibu marah-marah karena kembaliannya tidak sesuai dengan harga yang disepakati.

2. Hati-hati menerima tawaran bantuan

Saran ini mungkin ditulis berkali-kali di buku-buku panduan seperti Lonely Planet karena memang seringkali dialami oleh para traveler. Banyak sekali yang menawarkan bantuan dengan ramah namun ujung-ujungnya mereka minta uang. Memang tidak semuanya begitu, tentu selalu ada orang-orang yang berniat murni menolong, namun niat orang siapa yang tahu.

Sewaktu baru saja tiba di Chefchaouen kami disambut oleh beberapa pemuda yang menawarkan hotel. Kami bilang kami sudah booking hotel. Satu pemuda mundur, dan satu pemuda terus mengikuti kami sambil mengobrol. Dia bilang dia tahu lokasi hotelnya. Kami bilang kami juga sudah tahu karena punya peta (GPS). Namun dia terus mengajak ngobrol sambil terus berjalan bersama kami. Sampai akhirnya sudah dekat hotel, dia bilang, “Give me some money.” Adam bilang,”Why should I give you money?” Dia jawab, “Because I’m a nice person.” Sebelumnya dia menawarkan mariyuana, namun karena kami bilang kami tidak mau beli, akhirnya dia minta mentahnya saja langsung. Untungnya kami ‘saved by the bell’ karena pemilik hotel buka pintu dan kami pun masuk ke hotel.

Labirin biru di Chefchaouen

Labirin biru di Chefchaouen

3. Konfirmasi ulang harga yang sudah disepakati

Konfirmasi berulang-ulang harga yang sudah disepakati, misalnya saat naik taksi karena kebanyakan taksi tidak mau menggunakan argo. Entah karena salah dengar atau memang supirnya minta lebih, saat di Marrakech kami bayar 15 dirham dan sang supir terkejut dengan uang yang diberikan. Dia bilang, mana cukup ke stasiun 15 dirham. Give me 1 euro more. Padahal sebelum naik, Adam sudah bilang, “Fifteen dirham?” Dia bilang ok. Akhirnya kami tinggalkan saja supir yang ngomel-ngomel itu.

4. Download map, gunakan GPS, jangan terlihat bingung

Mungkin kalau untuk menjelajahi medina (pusat kota tua yang berbentuk labirin), walaupun sudah pakai google map tetap akan bingung. Namun setidaknya cukup membantu untuk menentukan arah. Setiap wajah yang bingung pasti akan jadi sasaran tawaran bantuan yang kadang kala kalau lagi apes ujungnya tidak enak.

5. Pesan akomodasi sebelumnya

Sebenarnya kami lebih suka cari akomodasi on the spot. Namun di beberapa lokasi di Maroko sepertinya lebih baik pesan dahulu sehingga sudah tahu akan menuju ke mana. Apalagi jika mau menginap di medina, pasti akan makan waktu lama sekali untuk cek lebih dari 1 akomodasi. Dan para calo sudah pasti akan berlomba-lomba menawarkan hotelnya jika tahu kamu belum punya akomodasi dengan cara mengikuti sampai bosan. Kami sering pakai Hostelworld untuk booking akomodasi.


6. Sewa guide untuk jelajahi medina

Kami sangat tidak suka ikut tur, namun waktu di Chaouen, kami disarankan untuk sewa guide untuk menjelajahi medina di Fes. Alasannya adalah karena kalau jalan tanpa guide, pasti akan diserbu oleh guide-guide lain. Hari pertama di Fes kami jalan tanpa guide, namun medina di Fes memang luar biasa mumetnya. Kalau tidak punya waktu banyak untuk nyasar-nyasaran ya lebih efisien sewa guide. Keuntungannya dengan guide bisa dapat info sejarah dan kultur lokal. Kerugiannya, dengan guide pasti minimal dia akan membawa kliennya ke toko-toko yang diharapkan klien akan beli sesuatu supaya dia dapat komisi. Kalau tidak mau pakai guide dan suka dengan pengalaman ‘get lost’, silahkan saja. Cara terakhir kalau sampai benar-benar tersesat ya tinggal minta tolong orang lokal dan mudah-mudahan tidak diminta bayaran.


Ruwetnya Medina di Fes

Ruwetnya Medina di Fes

7. Cek dan ricek review akomodasi

Sebelum sampai Marrakesh, kami sudah pesan riad (penginapan yang berbentuk rumah) dengan rating yang paling baik. Begitu sampai, ternyata tempatnya tidak sebaik rating yang tertera. Kamarnya sempit, bantalnya tidak bersarung dan penuh dengan noda-noda kotoran (akhirnya diberikan sarung saat kami minta), pipa bocor sehingga kamar mandi banjir, dll. Mungkin itu terdengar pengalaman yang biasa saja bagi orang-orang yang booking online. Namun kami mencurigai pemilik hotel memberikan review palsu supaya ratingnya tinggi walaupun aslinya hotelnya tidak sebaik itu.

8. Tolak gratisan

Saya membaca saran ini dari buku panduan internasional yang menyarankan untuk berhati-hati jika ada yang menawarkan sesuatu dan ketika kamu menolak maka dia bilang dia akan kasih kamu gratis. Saat di Plasa Jemma el Fna ada yang menawarkan henna, saya bilang tidak mau. Dia memaksa sambil berusaha pegang tangan dan bilang, “I give this for you as a present.” Saya langsung buru-buru melipir. Hari gini mana ada yang gratis?!

Stand jus jeruk yang menyegarkan di Marrakesh

Stand jus jeruk yang menyegarkan di Marrakesh

9. Pastikan makanan yg datang sesuai pesanan & usahakan cari yang harganya tertera dengan jelas.

Pernah suatu kali makan malam di plasa dekat medina di Tangier, seorang pria dengan semangat menawarkan restorannya pada kami. Dia bilang kalau makan kebab nanti sekalian dikasih salad dan kentang goreng. Kami mau kebab ayam dan sapi, dia bilang bisa pesan kebab campur koq. Sewaktu pesanan datang, setengah porsi kebab ayam dan kebab sapi datang ditambah salad dan kentang goreng. Saat mau bayar, awalnya dia menyebutkan total harga yang rasanya terlalu jauh lebih mahal dari pesanan kami. Sempat berdebat sampai akhirnya dia tulis hitung-hitungannya di atas kertas, dan tentu saja dia salah. Namun selain itu, kami juga kena charge untuk salad dan kentang goreng yang kami pikir otomatis dikasih kalau beli kebab. Yang lebih parah, dia charge salad dengan harga ‘big salad’ padahal piringnya cuma sebesar pisin kecil. Kami tawar lagi sampai dia bilang, “Ok, medium salad”. Kalau dihitung-hitung, dia mau mencatut sekitar 30 dirham. Jadi kalau tidak ada bon tertulis, cek dan ricek lagi harga makanan yang dipesan serta totalnya. Oh ya, hati-hati juga pesan makanan yang tidak ada daftar harganya. Kadang bisa kena ‘ketok’ 😉

10. Tolak tawaran dengan tegas namun tidak kasar.

Sebetulnya untuk tips yang satu ini kami belum lulus. Justru kami menyarankan hal ini berdasarkan pengalaman yang kami rasakan. Dalam menolak tawaran bantuan, jika kurang tegas maka mereka akan bersikukuh dan mengikuti terus (baca point no 2). Namun jika langsung ditolak pun mereka sering tersinggung dan menantang dengan pertanyaan yang kadang bisa memancing emosi. Misalnya, “Why not? Why don’t you want my help? Do you always do that in your country?” Beberapa kali percakapan tersebut berujung dengan perdebatan dan kami pun pernah sampai diusir “Get out of my country!” dtambah dengan beberapa kata makian lainnya. Mungkin hal ini bergantung juga pada karakter masing-masing sih, kalau orangnya sabar dan tidak mudah terprovokasi mungkin tidak akan ada masalah.

Sewaktu di Chaouen kami berusaha ramah dan menyambut obrolan seorang bapak yang ketemu di belokan gang sempit. Berawal dari topik negara asal dan ‘semua manusia itu bersahabat’ sampai ke aktivitas suku asli yang tinggal di gunung, akhirnya kami digiring ke tokonya untuk melihat hasil kerja orang-orang yang katanya tinggal di gunung tersebut. Intinya, dia penjual karpet dan hasil tenunan. Kami menolak dengan baik-baik namun dia tidak terima dan terus menerus menawarkan, “Budget kamu berapa?” sampai akhirnya hasil tenunan yang ditunjukkan kepada kami pun mulai menggunung di atas lantai. Ketika kami benar-benar pergi meninggalkan tempat itu (sekitar 30 menit kemudian), tampaknya dia tidak senang, terlihat dari senyum lebarnya yang menghilang.

Penjual karpet dan hasil tenun di Chaouen

Penjual karpet dan hasil tenun di Chaouen

Sekali lagi kami tekankan bahwa pengalaman-pengalaman di atas tidaklah mutlak terjadi pada semua pengunjung di Maroko. Kami bertemu dengan solo female traveller yang sampai nangis-nangis akibat diganggu oleh pria-pria di Maroko dengan kata-kata yang menyinggung fisik, namun banyak juga yang mengalami pengalaman yang menyenangkan selama di sana. Think positive and enjoy Morocco! 🙂

Join the discussion 24 Comments

  • hanny says:

    Ah, aku selalu ingin pergi ke Maroko, dan banyak teman yang sudah ke sana–teman-teman yang sudah biasa trip keliling dunia, bilang lebih baik jangan pergi sendirian ke sana, exactly for all those reasons you mentioned above 🙁 Sayang, ya, mendengar banyak pengalaman tidak menyenangkan dari orang-orang yang sudah datang ke Maroko, but I have to admit bahwa visually–dengan warna-warna dan bentuk-bentuk cantiknya, Maroko caught my heart in an instant :’D

  • Thamar says:

    uuhh..jd harus mikir2 juga ya kesana sendirian pdhal ada dlm plan

    • Susan says:

      hehe…ga papa. Kan yang penting udah tau jadi ga shock. Tinggal jaga diri aja, kalo bisa gabung sama penghuni hostel lainnya kalo mau keluyuran di medina 🙂

  • Wah, mirip-mirip sama India yah. 😀

  • mending ngajak mahasiswa yg ada di maroko, karena kita mahasiswa ada d stiap kota dan kita jg suka jalan” jdi gak perlu bayar duit buat guide, malah kita seneng kalo misal rumah kita dikunjungi para backpacker indo. emang orang maroko nyebelin dan wataknya emang keras, kita harus ngimbangin mereka, dan sepengalaman orang maroko kalo kita gertak mereka menciut . hehe

    • Ramby says:

      Halo, saya bulan agustus mau ke maroko, kebetulan saja juga bingung, dulu pas saya ke mesir juga pergi dengan mahasiswa indo yg kuliah di mesir, mungkin ada kenalan yg bisa ikut jalan bareng ga. Trima kasih

  • kdg g abis pikir, org2 gini berkelakuan gitu apa ga mikir, turis2 lain bkl males datang lg k negara mereka ya… -_-

    Ampe skr sih aku blm ada plan ke morocco mba. tp stlh baca ini, kyknya lbih milih beli paket traveling ksana dari travel agent ;p.. hihihi.. #NyariEnak

  • Setelah baca banyak artikel tentang Maroko sampai baca novel tentang Maroko sendiri. Akhirnya bener-bener yakin kalau daerah Maroko sangat kental dengan budayanya. Mau budaya Maroko sendiri, ataupun budaya penipuannya. Hampir sama kaya di Negara Vietnam, cuma kayaknya lebih sadis di Maroko.

  • BaRT says:

    Udah lama banget pengen ke Maroko. Dan apa-apa yang ditulis di sini mirip dengan apa yang terjadi di India. Aku pikir setelah berhasil survive di India, aku gak bakal gentar-gentar lagi sama yang kaya gini. Tapi kok setelah baca ini, jadi mikir dan agak gentar ya? Hahaha ,,, tapi aku rasa, yang seperti ini sebaiknya sih dihadapi aja kali yaaa 🙂 *tetep pengen ke Maroko*

  • Bermanfaat banget tulisan ini Susan dan comment2 di bawahnya semua kasih bayangan dan masukan. Aku paling baru mengalami di resehin sama Gypsi di stasiun Milan waktu mau naik kereta aku mengeluarkan kertas print out tiket dan langsung disambar sama Gypsi cowo dan minta tebusan 5 EUR disambi mau bawain keril ke dalam kereta. Masih untung wajah Gypsinya gak terlalu serem hehehe…
    Ok klo begitu belom siyap ke Maroko sorangan wae harus cari temen nih. Rencana impian adalah nyebrang dari Spain di Algeciras-Tangier port.

  • amek says:

    Bilang aja ke orang maroko mas mbak dari palembang.you know palembang ha ?you will dead if you intimidate me .you can see palembang in internet and you cant see the sun tomorrow.hhe

  • Ade says:

    Rencana baru mau kesana bulan Oct. Msh solo sih. Focus in Marrakech dan Chefchaouen, cmn ada totally 7 days on land,Ga termasuk traveling dates. Yahhh semoga aman sejahtera lah yaaaa :p
    Ada rekomendasi hostel di Chefchaouen mbak? Cmn mo compare aja sih thx

  • Indah says:

    hi, ada rekomen private tour dr Marrakech ke Sahara gak yah. Thanks in advance

  • Sutikno Gresik says:

    Hm.. informasi ini sangat bermanfaat Mbak… trims

  • Franly Oley says:

    Saya lagi di Marrakech ngikuti acara PBB COP 22. Dan saya mengalami persis seperti yang ditulis di artikel di atas. Sepertinya kalau ada orang Indonesia yang tinggal di sini dan bisa dihubungi akan lebih baik. Kira2 ada nggk kontak orang Indonesia di sini yang bisa kami hubungi..? thanks…

Leave a Reply