Camino Santiago de Mozarabe: Jalan Kaki di Spanyol dari Granada ke Merida (411 km)

Pagi hari di Camino Mozarabe

Hola! Setelah sempat mengabari progress #CaminoDulu kami waktu baru sampai di Cordoba, sekarang saatnya kami mengupdate lagi status jalan kaki kami. FYI, rute yang kami jalani dikenal dengan nama Camino Mozarabe, yang banyak menelusuri jejak sejarah Arab di Spanyol. Di kota-kota yang dilewati banyak bangunan seperti kastil atau bekas mesjid yang dibangun pada masa kekuasaan bangsa Arab di Spanyol.

Catedral - Mezquita Cordoba

Catedral – Mezquita Cordoba

Jadi ceritanya, setelah dari Cordoba itu kami memang ambil break dulu selama hampir 2 minggu. Beberapa hari kami habiskan di Ronda, kota kecil nan cantik dan santai. Selebihnya sengaja kami menuju ke Malaga dan Seville untuk menikmati Festival Semana Santa (seminggu sebelum Paskah) yang sangat meriah di sana.


Perayaan Semana Santa di Malaga

Sehari setelah Paskah, tenaga dan semangat kami sudah pulih dan siap jalan kaki lagi. Dari Seville kami naik bis jam 7 pagi menuju Cordoba. Ternyata hari itu kami dihantui cuaca buruk. Hampir 10 hari penuh kami menikmati matahari terik, di hari kami mau kembali jalan kaki, kami terkena hujan badai. 20 menit jalan kaki dari penginapan ke stasiun bis, kami basah berat walaupun sudah pakai jas hujan. Dalam perjalanan bis kami sepakat untuk menjalani rencana jalan kaki bergantung cuaca karena kami tidak mau jalan jika sedang hujan deras. Kalau terjebak hujan saat sudah di tengah jalan sih beda soal.

Untungnya, tiba di Cordoba tidak ada tanda-tanda hujan meskipun awannya mendung. Waktu itu sudah hampir jam 12 siang dan kami belum makan siang. Kami langsung jalan ke Cerro Muriano, koto kecil yang jadi tujuan jalan hari itu karena jaraknya ‘cuma’ 16 km. Di tengah jalan ke luar kota Cordoba kami coba cari makanan namun tidak tersedia karena menurut kebiasaan di sana, biasanya makan siang baru dimulai jam 2-5 sore. Akhirnya kami lanjut jalan dan makan cemilan saja berupa muesli bar, sebungkus olives dan keripik kentang sepanjang jalan.


4 jam kemudian kami tiba di sebuah albergue yang dikelola oleh sepasang pria dan wanita asal Belanda, Jan & Maria. Sebenarnya kami sudah dengar tentang mereka dari forum-forum Camino. Kami baca bahwa ada seorang wanita pejalan yang sempat hampir menyerah saat jalan dari Granada ke Cordoba, namun dia memberi kesempatan 1 hari lagi jalan kaki dan tiba di Cerro Muriano. Pasangan Belanda tersebut sangat passionate terhadap Camino de Santiago dan telah menjalani beberapa rute yang berbeda. Dari pengalaman tersebut mereka jadi sangat mengerti kebutuhan para pejalan dan membuka rumah mereka untuk menampung para pejalan. Mereka tidak menentukan tarif, sistemnya berupa donasi. Mereka juga sangat membantu dalam memberikan info kondisi jalan di beberapa hari ke depannya. Sang wanita yang hampir menyerah akhirnya kembali semangat dan melanjutkan jalan kakinya. Sama halnya dengan kami yang jadi semangat untuk melanjutkan perjuangan kami. Namun ada satu hal yang merubah rencana kami. Pasangan tersebut bilang bahwa rute favorit mereka adalah Camino Via de la Plata yang dimulai dari Seville. Dari sana kami memutuskan untuk jalan kaki sampai Merida saja karena kami ingin menjalani rute Via de la Plata secara full di kemudian hari, yang kira-kira sejauh 900 km dan memakan waktu kurang lebih 44 hari. Tidak mungkin dijalani sekarang karena waktunya tidak cukup.

Bersama Jan, pemilik albergue di Cerro Muriano

Singkat cerita, kami berhasil menyelesaikan Camino Mozarabe dan tiba di Merida di hari ke-18. Total jaraknya sekitar 411 km. Kesan kami terhadap rute ini memang rute yang sangat solitude. Selama 18 hari kami hanya bertemu 2 orang pejalan Spanyol dan 1 orang cyclist. Selebihnya kami jalan berdua saja. Begitu kami tiba di Merida yang merupakan titik temu antara Rute Mozarabe dengan Via de la plata, banyak sekali pejalan yang terlihat. Ketahuan dari pakaiannya serta banyak yang berbahasa Inggris. Artinya pejalan yang menjalani Via de la plata jauh lebih banyak daripada Mozarabe. Namun masih lebih sedikit dibandingkan Camino Frances (dari St. Jean pied de port atau Roncesvalles) yang kadang ramai sekali. Bisa dibilang, rute yang ideal lah! Makanya kami penasaran banget dengan rute Via de Plata ini. Doakan supaya bisa tercapai dalam 1-2 tahun ke depan ya!

Selamat menikmati keindahan rute Camino Mozarabe melalui foto harian kami dan jangan lupa baca tipsnya bagi yang tertarik dengan Camino ini 🙂


Rangkuman tahapan rute Camino Mozarabe setiap harinya:

Hari 1: Granada – Moclin (35 km)
Hari 2: Moclin – Alcala la Real (20 km)
Hari 3: Alaca la Real – Alcaudete (24 km)
Hari 4: Alcaudete – Baena (24 km)
Hari 5: Baena – Castro del Rio (20 km)
Hari 6: Castro del Rio – Santa Cruz (21 km)
Hari 7: Santa Cruz – Cordoba (26 km)
Hari 8: Cordoba – Cerro Muriano (16 km)
Hari 9: Cerro Muriano – Villaharta (21 km)
Hari 10: Villaharta – Alcaracejos (38 km)
Hari 11: Alcaracejos – Hinojosa del Duque (25 km)
Hari 12: Hinojosa del Duque – Monterrubio de la Serena (32 km)
Hari 13: Monterrubio de la Serena – Castuera (18 km)
Hari 14: Castuera – Campanario (18 km)
Hari 15: Campanario – Don Benito (23 km)
Hari 16: Don Benito – Santa Amalia (17 km)
Hari 17: Santa Amalia – San Pedro de Merida (18 km)
Hari 18: San Pedro de Merida – Merida (15 km)
Camino Mozarabe day 1

Camino Mozarabe day 1

Camino Mozarabe day 2

Camino Mozarabe day 2

Camino Mozarabe day 3

Camino Mozarabe day 3

Camino Mozarabe day 4

Camino Mozarabe day 4

Camino Mozarabe day 5

Camino Mozarabe day 5

Camino Mozarabe day 6

Camino Mozarabe day 6

Camino Mozarabe day 7

Camino Mozarabe day 7

Tips bagi yang tertarik menjalani Camino de Santiago

Buat yang penasaran apa itu Camino de Santiago, coba browsing-browsing lagi infonya di internet. Atau sekalian nonton film “The Way” (2010).

Beberapa hal yang perlu diketahui tentang Camino de Santiago:

  • Camino ini tidak ada jadwalnya, bebas sepanjang tahun silakan pilih sendiri tanggalnya.
  • Camino ini bukan grup tur ataupun guided tur. Jalannya masing-masing, tapi sangat tidak menutup kemungkinan bisa ketemu dan jalan bareng pejalan lain kalau memang pace-nya sama.
  • Camino ini bukan hanya untuk umat Kristen/Katolik mesti rutenya diambil dari rute peziarah Katolik jaman dahulu. Tidak ada batas agama di sini karena rute yang dilalui pun jalan umum.
  • Tidak perlu takut tersesat karena tanda/petunjuk ada di hampir setiap belokan. Rute Camino ini diakui secara internasional dan sudah dijalani ratusan tahun, bukan rute abal-abal.
  • Camino ini bisa dipecah-pecah. Kalau tidak bisa jalan sebulan penuh, jalani dulu saja setengahnya, nanti bisa disambung lagi. Atau kalau memang tidak mau jalan sebulan, ya jalan saja seminggu atau 2 minggu sebelum titik akhir. Tidak ada aturan sama sekali harus jalan berapa jauh baru sah. Satu-satunya syarat adalah kalau mau dapat sertifikat harus jalan minimal 100 km dari Santiago de Compostela, yakni kira-kira 5-6 hari sebelum Santiago.
  • Camino ini artinya jalan kaki. Kalau sampai terkilir boleh naik taksi tidak? Sekali lagi, tidak ada aturannya. Semuanya tergantung komitmen masing-masing. Kalau terpaksa dan tidak bisa jalan lagi dan harus naik taksi/ kendaraan, kenapa tidak? Kemarin ini di hari di mana kami harus jalan 38 km, kami disodorkan 2 pilihan oleh pasangan Belanda yang kami temui di Cerro Muriano. Pilihan pertama: jalan 18 km kemudian minta dijemput (sudah diatur di kota sebelumnya) dan kembali menginap di kota yang sama dengan malam sebelumnya dan besok paginya diantar ke titik tengah lagi untuk melanjutkan perjalanan. Pilihan kedua: langsung diantar naik taksi ke titik tengah dan jalan hanya sekitar 18-20 km hari itu. Alasannya adalah karena 38 km jarak yang sangat jauh dan tidak ada kota/desa tempat istirahat maupun makan & minum. Kalau ada yang bilang pilihan kedua itu ‘cheating’, harusnya pilihan pertama ga masalah dong. Toh di pilihan pertama kami tetap harus jalan 38 km dibandingkan pilihan kedua yang cuma menjalani setengahnya. Namun saya dan Adam sempat berdebat karena Adam bersikukuh tidak akan ambil pilihan 1 ataupun 2. Adam berpendapat bahwa spiritnya Camino ya jalan kaki, jadi tidak ada itu yang namanya naik kendaraan. Alhasil hari itu kami kehujanan selama 3 jam dan hampir kena hypothermia saking dinginnya. Tapi kami senang dengan achievement kami sendiri. Apakah berarti yang naik kendaraan itu tidak sah? Tidak juga. Semuanya kembali ke komitmen dan kemampuan masing-masing. Jadi tidak usah panik atau khawatir kalau merasa tidak mampu, jalani saja sebisanya, yang penting….enjoy the walk! 🙂
  • Urusan budget, beda rute beda budget. Karena di rute Camino Frances ada banyak albergue, budget penginapan bisa lebih murah. Namun di Camino Mozarabe ini seringkali kami harus menginap di hostal yang harganya bisa dua kali lipat albergue. Sebagai gambaran, di Camino Frances budget bisa 20-25 Euro per hari per orang. Di Camino Mozarabe sekitar 70 Euro per hari per 2 orang (karena kami sharing biaya kamar). Jika jalan sendiri (1 orang) di Camino Mozarabe bisa jadi sedikit lebih mahal di biaya akomodasi.
  • Musim yang paling bagus buat jalan? Kalau bisa jangan Desember-Februari karena masih dingin sekali dan jangan Juni-Agustus karena sangat panas.
  • Untuk pertanyaan lain silakan japri via email saja ya ke susan@pergidulu.com. Kalau memang tertarik sekali dan benar-benar ingin menjalaninya, kami sarankan ketemu langsung karena banyak sekali info yang bisa kami bagikan yang tidak mungkin kami tulis semuanya. Kalau ketemu langsung kan bisa langsung tanya balik kalau ada yang tidak jelas. Buen Camino! 🙂
Camino Mozarabe day 8

Camino Mozarabe day 8

Camino Mozarabe day 9

Camino Mozarabe day 9

Camino Mozarabe day 10

Camino Mozarabe day 10

Camino Mozarabe day 11

Camino Mozarabe day 11

Camino Mozarabe day 12

Camino Mozarabe day 12

Camino Mozarabe day 13

Camino Mozarabe day 13

Camino Mozarabe day 14

Camino Mozarabe day 14

Camino Mozarabe day 15

Camino Mozarabe day 15

Camino Mozarabe day 16

Camino Mozarabe day 16

Camino Mozarabe day 17

Camino Mozarabe day 17

Camino Mozarabe day 18

Camino Mozarabe day 18

Join the discussion 13 Comments

  • Bijo says:

    Wah baru tau camino-camino-an ini, kayaknya seru jalan kaki di tempat sekeren itu. Kalo jalan kaki seminggu gitu memungkinkan gak, kak?
    Aku udah beli tiket ke yurop tapi belom tau mau ngapain 🙂

    • Susan Natalia Poskitt says:

      memungkinkan banget. kalo boleh suggest, ambil rute yang Camino Frances aja, seminggu sebelum Santiago de Compostela. Itu rame banget pasti yang jalan, tapi seru bisa ketemu banyak pejalan lain. Tapi kalo mmg cari yang sepi dan mau menyendiri, hindari 5 hari terakhir dari Sarria ke Santiago de Compostela 😉

  • Mumun says:

    AAKKK! Cuman bisa teriak baca ini. AAAKKK!!!

  • Woww.. Keren banget sudah pernah camino. Ternyata camino ada macam2 ya jenisnya, saya hanya tahu yang Camino Santiago de Compostela (karena mungkin yang paling terkenal ya). Udah pernah sampai di kota Santiagonya tapi memang ngga camino. Hehehe. Thank you for sharing. Sangat menginspirasi! 🙂

  • Lusia Gita says:

    Dengar pertama kali tentang Camino Santiago de Compostela dari buku Paulo Coelho yang The Pilgrimade. Sempat browsing2 ternyata memang ada rute itu dan mulai tertarik. Terus nemu blog mbak ini jadi makin tertarik untuk bisa mencobanya suatu saat. Masukin dalam bucket list travel (and spiritual journey) 🙂

  • Alex P says:

    Wah keren sekali…suatu saat saya juga ingin mengikuti camino el santiago ini…

  • Adek says:

    Dulu liat foto-foto dan caption di ig pergidulu tentang camino merinding, sekarang ngubek-ngubek blog baca camino tetap merinding. Pengen banget jalan kaki jauh dengan pemandangan spektakuler kayak di camino. Mungkin dimulai dengan menaikkan rute jalan pagi nggak lg cuma 9 km. Thank you, you two, for the experinces and the sharing.

    • Susan Natalia Poskitt says:

      Hi, you’re welcome! Glad to hear that we inspire you. Pasti bisa, kami aja waktu itu latihannya ga berat2 amat. Yang pasti harus siapin mental juga sih selain fisik. Let us know if you’re ready to go and if you need more detail insights 🙂

  • Santi says:

    Baru tau Camino Dari ig nya Mba Susan, Dan perasaan bgt soal ini, tp sumpah Karen ya bisa jalan sepanjang ini bener2 dah mesti kuat fisik kynya..thanks bgt buat info nya..

  • Sibebi says:

    Amaze sama komitmen kalian, Susan & Adam!!! ??. Btw, foto-fotonya juga bagus-bagus. Terima kasih juga sudah sharing detail Camino ini, jadi saya bisa tau dan dapat gambaran soal Camino. Kemarin April 2017, saya sempat ke Santiago de Compostela soalnya. Tapi naik pesawat ke Santiago nya hehehe, bukan jalan kaki. Di tengah kota tua, ada lapangan di depan Katedral, yang sepertinya jadi titik akhir Camino. Disana banyak peziarah dari berbagai negara. Ada yang saling peluk, ada yang nangis… ada yang bersorak. Titik final perjuangan mereka ya. Ok then, semangat ya Susan & Adam! 🙂

Leave a Reply to Susan Natalia Poskitt Cancel Reply