Traveling ke Amerika Selatan: Aman atau Tidak?

Taman Di Pusat Kota Medellin

Entah kalian pernah dengar image tentang negara-negara di Amerika Selatan atau tidak, yang pasti dari sebelum berangkat saya sudah dicekoki gambaran oleh Adam bahwa di sana itu tidak aman. Saking parnonya, dia sampai bilang “Semua orang yang jalan-jalan ke Amerika Selatan pasti pernah kerampokan.” Herannya, saya yang penakut justru lebih santai, kebalikannya Adam yang cuek justru panik banget.Pusat Kota Bogota

Apa kata orang yang sudah pernah ke Amerika Selatan?

Saya tanya-tanya kepada yang sudah pernah ke Amerika Selatan, salah satunya Trinity.

Dia dengan santainya bilang “Aman sih, paling rada ribet aja karena harus lebih waspada.”

“Pernah liat orang kerampokan?”

“Oh ya pernah, ya gitu aja di tengah kerumunan orang tiba-tiba handphone-nya dicomot aja gitu sama perampoknya.”

Dalam hati saya bilang….“Haduh…segitu dibilang aman ya?”

Terus saya juga sempat tanya sama salah satu teman kami yang pernah tinggal beberapa bulan di Kolombia. Dia sampe heran karena kami parno. Dia bilang di semua negara sama aja koq. Kejahatan mah bisa terjadi di mana aja. Asal waspada. Terus saya tanya “Selama di sana pernah jadi korban atau jadi saksi tindak kriminal gitu?” Dia jawab “Saya sendiri sih ga pernah, tapi teman pernah kerampokan waktu jalan sama teman lain.” Hmmmm…..*mikir*

Singkat cerita akhir Februari 2016 lalu kami berangkat meninggalkan Indonesia untuk menuju ke Eropa dan menghabiskan 6 minggu di sana, 2 minggu di Ameria Serikat, 3 minggu di Meksiko sebelum akhirnya menginjakkan kaki di negara Amerika Selatan yang pertama — Kolombia. Kami menghabiskan waktu 2 minggu di Kolombia, 1 minggu di Ekuador, 3 minggu di Peru dan 3 minggu di Chile. ‘Cuma’ 9 minggu di Amerika Selatan, apakah sudah bisa bilang kalau traveling di Amerika Selatan itu aman atau tidak?Cable Car Gratis Untuk Penduduk Di Medellin

Apa yang bikin Amerika Selatan punya image bahaya?

Berdasarkan pengalaman kami, yang paling kami takutkan adalah perampokan bersenjata. Konon katanya perampok-perampok di sini kebanyakan bersenjata api. Ngeri bok kalo ditodong pake pistol. Katanya kalau ditodong kasih aja barang yang diminta, ya iya sih, tapi kayaknya bakal gemeter duluan ga tau mesti ngapain kalo sampe ada yang nodongin pistol.

Hari kedua di Mexico City, kami jalan-jalan ke Piramida Teotihuachan yang berada di pinggir kota Mexico City. Turun dari bis, kami mengobrol dengan seorang pemuda asal Jerman yang melakukan rute kebalikan dari kami. Jadi dia sudah menjalani Chile-Peru-Ekuador-Kolombia sebelum ke Mexico. Kami tanya “Did you feel safe when you were there?” Lagi-lagi dia dengan santai “Yeah…quite safe.” Tapi begitu ditanya pernah merasa tidak aman, rupanya dia punya cerita mengejutkan.

Waktu di Quito, ibu kota Ekuador, dia dan pacarnya jalan saat hari sudah gelap. Nah katanya mereka agak menyimpang sedikiiiit banget dari ‘jalur aman’. Jalan rayanya cuma di ujung sana, tapi mereka ada di jalan yang mungkin agak gelap. Tiba-tiba ada mobil SUV mendekat dan 2 orang melompat dari mobil dan menghadang mereka. Awalnya mereka coba lari, tapi sang pria terjatuh.

Saat mendongak, sebuah pistol ditodongkan ke arahnya dan minta backpacknya. Dia sudah mau memberikan backpacknya, tapi rupanya backpacknya sulit dilepas karena dia mengikatkan tali pinggang backpack tersebut. Peristiwa tersebut sebenernya pasti berlangsung sangat cepat namun rupanya para perampok merasa tidak sabar karena takut ketahuan. Akhirnya sebelum backpack dilepas akhirnya mereka kabur menggunakan mobil SUV yang dari tadi menunggu dekat mereka.

Hmm… lagi-lagi mikir. Segitu aman ya?

Satu lagi cerita dari teman baru kami dalam perjalanan ke Banos (Ekuador), katanya temannya pernah melihat bapak tua yang dijambret dan seorang yang ditusuk pisau di tengah keramaian di siang hari bolong. Hmmm….Pusat Kota Quito

Pernah ngalamin sendiri?

Ingatan kembali pada suatu malam saat kami baru didrop oleh bis dari bandara ke pusat kota Medellin. Dari dalam bis kami sudah melihat kalau area ini agak dodgy, banyak prostitusi dan karakter-karakter yang kasar. Kami nunggu dijemput Uber di depan sebuah hotel di sebuah jalanan kecil. Saya yang lagi memandang handphone tiba-tiba diteriaki Adam untuk memasukkan handphone ke dalam tas. Refleks saya langsung masukkan sambil memandang ke arah orang yang mendekati kami.

Sempat saya pandangi lekat-lekat beberapa detik sebelum saya memahami apa yang saya lihat dan Adam mendorong paksa saya ke arah dalam hotel. Seorang pria tanpa baju atasan berjalan ke arah kami, satu tangannya menekan kaos putih ke arah dada/leher yang berlumuran darah. Ya…butuh sekian detik bagi saya untuk menyadari kalau kaos yang dipegangnya itu ternyata berlumuran darah juga. Warnanya masih merah segar. Entah apakah dia korban penusukan atau mungkin dia habis menusuk orang.


Dia cuma menggumamkan sesuatu saat saya memandang dia. Namun karena kami menyingkir ke arah dalam hotel, dia berlalu begitu saja. Tidak terlihat kesakitan, cuma sempat melihat mungkin dia di bawah pengaruh obat karena jelas-jelas dia berdarah parah tapi tidak terlihat kesakitan.Kota Oasis Di Peru


Jadi, Amerika Selatan itu aman atau tidak?

Ya cuma segitu aja cerita horor yang bisa kami bagikan berkaitan dengan keamanan saat traveling di Amerika Selatan. Silakan nilai sendiri saja apakah aman atau tidak. Karena kadang kalau diceritakan begitu responnya paling “Sama mbak, di Jakarta juga begitu. Di kota xxx juga banyak yang dijambret pake pistol. Di sini juga ada kapak merah, mbak. Kemarin ini juga di jembatan layang ada yang kena tembak sama geng motor. Dan lain-lain.”

Terserah penilaian kalian sih. Kalau mau jujur dari pengalaman kami selama 9 minggu di sana overall sih aman, tapi hampir sepanjang waktu kami sangat waspada. Tas tidak pernah ditaruh di lantai saat naik bis, dompet/HP tidak pernah taruh di kantung celana, setiap jalan selalu mengamati kiri kanan depan belakang dan saling mengingatkan kalau salah satu dari kami ada yang lengah. Pokoknya non-stop waspada. Agak melelahkan sih, tapi memang kewaspadaan sangat dibutuhkan saat traveling di Amerika Selatan. Kalau lengah bisa jadi sasaran empuk.Road Trip Di San Pedro De Atacama

Tips Melindungi Diri saat traveling di Amerika Selatan

Memang nasib itu di tangan Tuhan. Tapi toh kita bisa berbuat sesuatu untuk melindungi diri saat traveling. Berikut ini kami rangkumkan beberapa poin untuk setidaknya meningkatkan rasa aman saat traveling di Amerika Selatan:

  1. Usahakan jangan berkeliaran saat sudah gelap. Memang tidak semua tempat seperti itu, tapi di beberapa kota yang kami datangi saat siang hari atmosfer sangat santai dan terasa aman, begitu malam hari suasana berubah jadi creepy. Toko-toko banyak yang tutup begitu matahari terbenam dan jalanan relatif sepi.
  2. Jangan sampai lengah mengawasi barang-barang bawaan. Meskipun terlihat aman, jangan meletakkan tas di lantai karena banyak kasus pencurian dari kolong kursi. Begitu juga barang-barang yang dititipkan di bagasi bis, jangan taruh barang berharga karena konon katanya suka ada yang bongkar-bongkar bagasi selama perjalanan (tergantung bus company-nya).
  3. Di tempat umum meskipun ramai tetap harus sangat hati-hati menggunakan handphone atau kamera karena banyak kasus pejambretan di tempat ramai. Amati dulu keadaan sekeliling sebelum mengeluarkan gadget dan masukkan kembali saat tidak dipakai.
  4. Lakukan riset dulu tentang kota yang dituju. Sering tertulis dalam wikitravel atau Lonely Planet daerah-daerah yang aman dan rawan kejahatan. Usahakan hindari  daerah yang disebut-sebut rawan kejahatan tersebut.
  5. Lindungi diri dengan membeli travel insurance. Memang untuk ke Kolombia, Ekuador, Peru dan Chile kita (WNI) tidak perlu visa sehingga tidak ada syarat asuransi perjalanan. Namun karena kemarin saya perlu travel insurance untuk ke Eropa maka saya perpanjang masa asuransi hingga bisa mengcover periode saat kami di Amerika Selatan. Buat yang belum pernah beli asuransi perjalanan bisa mempertimbangkan Travellin — sebuah jasa penyedia polis asuransi perjalanan yang menawarkan dua pilihan paket asuransi perjalanan, domestic package dan international package. Masing-masing paket tentunya menyediakan detail proteksi dan besaran rate yang berbeda-beda. Travellin merupakan salah satu dari banyak perusahaan asuransi yang menyediakan dan menawarkan berbagai layanan secara online dengan tujuan agar cepat, mudah, dan praktis untuk diakses oleh para penggunanya. Buat yang mau tahu lebih banyak tentang Travellin bisa langsung akses website travellin.co.id. Mumpung lagi ada diskon akhir tahun 20% dengan kode promo TRAVELLINYEAREND.
  6. Tips terakhir mungkin agak klise, tapi penting: Selalu waspada dan amati keadaan sekitar. Kalau merasa tidak enak, ikuti kata hati dan tinggalkan tempat tersebut. Intinya, cari aman aja deh.

Sebagai penutup, kami cuma mau bilang kalau artikel ini dibuat bukan untuk menakut-nakuti (seperti artikel ini yang malah jadi bikin orang takut ke sana). Kami sharing ini semata-mata berdasarkan pengalaman kami pribadi. Kalau memang ada yang sudah pernah ke sana dan merasa totally safe, ya sukur. Toh kami cuma bilang agar selalu waspada. Memang benar kejahatan bisa terjadi di mana-mana. Cuma menurut kami di Amerika Selatan ini agak beda level kriminalitasnya. Jangan diabaikan tapi jangan juga sampai bikin mengurungkan niat untuk melihat dunia di sisi  tersebut. Be Safe, No Worries & Let’s Travel aja yuk!Ayunan Di BanosBtw, ada yang pernah jadi korban kriminalitas atau jadi saksi kejadian kriminalitas saat traveling (di mana saja, bukan cuma di luar negeri)? Sharing-sharing dong di kolom komentar, siapa tahu bisa jadi info yang penting buat mawas diri saat traveling ke daerah tersebut. Buat yang ngasih 3 komentar/cerita pengalaman paling menarik nanti kami kirimi oleh-oleh yang kami beli dari Amerika Selatan. Komentar ditunggu paling lambat tanggal 5 Desember 2016 ya (biar pas sama tanggal ultah saya) 😉

Join the discussion 11 Comments

  • Eky says:

    Walaupun baru ke 2 negara di Amerika Selatan, saya cuma bisa ngangguk-ngangguk baca tulisan ini. Bener banget, sebelum berangkat (even pas di sana) saya baca cerita dan denger yang serem-serem tentang Rio de Janeiro. Mulai dari anak kecil yang suka nyopet sampe orang yang ditusuk di tengah jalan.

    Begitu di sana bawaannya parno terus, tapi untungnya nggak kenapa-kenapa. Nyeselnya pas sampe rumah karena terlalu waspada tadi jadi jarang banget keluarin HP/kamera jadi kenang-kenangan berupa fotonya dikiit banget 🙁

    Hal yang sama nggak saya rasain di Cusco sih, di sana lively banget jadi berasa aman aja. Mungkin karena nggak pernah baca cerita yang aneh-aneh juga tentang Cusco or Peru in general sih.

    Btw mau tanya itu gondola di tengah kota ada di mana ya? Yang saya tau ada di Bolivia tapi sepertinya kalian nggak main ke sana kemarin (?).

    • Susan Natalia Poskitt says:

      Cable Car itu di Medellin, transportasi gratis untuk penghuni barrio yang ada di sisi bukit. Tapi dari ujung barrio ada juga cable car khusus untuk wisata sampai ke puncak bukit yang sengaja dibuat untuk area wisata.

      Betul banget, sering kali kami juga ga bawa hp kalo keluar malam untuk makan. dan kamera selalu di dalam tas, dikeluarin cuma buat jepret 1-2x terus dimasukin lagi.

  • Kalau yang ada diberita banyakan kriminal di sana berhubungan dengan kartel.
    Tapi kalau dengar dari para pesepakbola yang ada di Indonesia sih mereka bilang tidak semua tempat bahaya, dan kita harus ekstra waspada ketika berjalan. Kalau baca bukunya trinity katanya yang asyik malah Kuba, seperti kita hidup di masa tahun 70an 😀
    Di Brazil juga ada hotel yang bernama makassar kalau tidak salah, itu hotel milik mantan pemain sepahbola yang memperkuat PSM Makasar, namanya luciano.

  • Yulin says:

    Saya gak tau apa kejadian ini bisa disebut kriminalitas atau tidak, tapi menurut saya sih, iya. Karena kejadian ini bikin saya marah dan pengin nangis di saat bersamaan. Oke, jadi Februari lalu, saya menginap di sebuah hotel kapsul di area bandara Kuala Lumpur. Nginep satu malam, karena besok paginya saya ada penerbangan pertama ke Yangon, Myanmar. Dari berbagai referensi yg saya baca di Agoda, sepertinya hotel kapsul ini aman dan staffnya bersahabat. Pun ketika dateng dan check in, juga begitu.

    Karena konsep hotelnya yang ‘kapsul’ dan kamarnya juga mentok cuma buat tidur, jadi segala barang-barang termasuk backpack gede, saya titip masukin ke locker yg dikunci. (Pas tidur, duit saya tetap pegang deket tempat tidur dong). Paginya pas mau mandi, karena kamar itu juga tidak memiliki pintu, hanya gorden yg jadi penutup kamar, saya terpaksa masukin uang di backpack dalem locker. Uang sengaja saya tidak taruh di dompet, tapi di buku. Ada pecahan 100 USD 2 lembar, dan nominal-nominal kecil seperti 20, 10 dan 5. Sebelum cabut ke bandara, saya sempat memeriksa buku tempat pecahan USD itu sekilas. Karena masih tampak jadi saya langsung cabut saja. Kan buru-buru, namanya juga penerbangan pagi.

    Setibanya di Yangon, ketika sudah berada di depan counter penukaran uang, saya kaget sekali waktu menemukan ternyata pecahan yg 100 USD 2 lembar itu hilang! Yang tertinggal cuma pecahan kecilnya saja–mungkin itulah yg saya lihat sekilas pas mau check in ke bandara KL tadi.

    Jujur, waktu itu saya pengin nangis sekali. Apalagi waktu itu saya traveling/backpacking solo pula. Dan di negeri orang pula. Mau minta bantuan ke siapaa… Beneran pengen nangis dan marah. Karena mau gak mau, jadi ikut berprasangka buruk sama orang hotel kapsul tempat saya menginap. Jangan-jangan, jangan-jangan… Soalnya, gak mungkin sekali USD itu jatuh—lagian kalo jatuh kenapa cuma yg pecahan 100 USD saja? Kenapa gak nominal kecilnya juga sekalian?

    Pelajarannya: kalo lagi traveling dan nginep di hotel kapsul, selalu bawa duit kemana saja, even waktu mandi sekalian. Karena kita kan gak tau, kriminalitas bisa terjadi di mana saja dan berbentuk apa saja. T___T

  • Kharis A. Arief says:

    Saat mengantri karcis di Santiago Bernebeu, saya dirampok Gipsi. Lenyap sudah lembaran 50 Euro. Rupanya, sudah tujuh tahun belakangan ini, bertambah banyak pendatang gelap dari Eropa Timur. Kebanyakan berkebangsaan Romania. Akhirnya, saya membuat laporan di kantor polisi terdekat.

    Saya hanya terdiam, seorang diri menatap lirih potret bintang lapangan hijau. Dan pada saat itulah, saya merasakan kecemasan terdalam. Bagaimana mungkin saya menikmati kebahagiaan di negri matador?

    Terima kasih Mba Susan.

  • Wooow, aku deg-degan sendiri pas baca bagian kamu lihat orang berdarah-darah itu, San. Kalau aku mungkin udah pingsan atau paling nggak udah deg-degan nggak karuan.

    Waktu SMP aku pernah naik kereta ekonomi dari Klaten mau ke Jakarta. Jangan bayangin kereta ekonomi saat itu (tahun 1997) kaya jaman sekarang ya. Pas baru mau naik KA, ada ibu-ibu yang repot dengan tas bawaannya. Trus ada anak-anak muda yang bukannya ngasih jalan orang mau masuk gerbong, malah berdiri di depan pintu toilet. Tiba-tiba aku lihat ada salah satu dari mereka ngambil dompet si ibu.

    Aku hampir teriak ngasih tau, tapi salah satu dari cowo itu nempelin pisau di pinggang ku dan dorong aku sampai aku jatuh masuk ke dalam bilik toilet. Pas aku keluar, orang-orang itu udah pada turun semua.

    • Susan Natalia Poskitt says:

      haduh…itu juga serem sih kalo ada yang nodongin piso. Pokoknya kalau yang berhubungan sama senjata lebih ngeri karena kesannya lebih fatal kalo sampe ada kontak frontal. Thanks for sharing, Ti 🙂

  • Serem juga ya, tapi memang dimana pun tempat harus selalu waspada akan bahaya kriminal. Pernah ngalami juga di Vietnam, hampir aja kami kejambretan untung saja tas yang mau di jambret gak sempat lepas meski sempat kena. Sebelum berangkat juga udah cari2 info soal keamanan di Vietnam dan banyak juga cerita horor yang saya dengar.

  • vera julianti says:

    Hi ka Susan, salam kenal yaa.
    Ngalamin sendiri sih saya belom pernah selama backpackeran tapi saya pernah melihat kejadian yang susah untuk dilupakan. saya mau cerita jalan-jalan dalam negeri aja ya soalnya belom pernah keluar negeri maklum baru jadi mahasiswa jadi padet jadwalnya hehe padahal mah gak punya uang. waktu itu saya dan teman saya jalan keliling jakarta dari Taman Mini-Ancol itu karena temenku dari luar kota makanya saya ngajak dia jalan-jalan dikota saya hehe karena bales budi dia ngajak jalan waktu saya kekotanya di yogya. singkat cerita saya dan temen saya pergi ke Taman mini dulu karena jam buka yang terbatas dan berakhir di Ancol. nah, kejadiannya itu setelah pulang dari Ancol yang sudah malem ini kami alami. karena temen saya jatuh pas lari di Dufan akibat jalan yang licin karena gerimis maka dia hendak mengecek takutnya ada apa-apa untungnya dia punya kartu jaminan kesehatan jadi dia bisa cek kesehatan gratis dengan beberapa persyaratan aja. nah kami cek di telukgong karena deket dengan rumah saya juga. saya mengantarnya dan menunggu di bangku depan ruangan ceknya karena ini puskesmas 24 jam dan sudah sepi. tidak beberapa lama datenglah sepasang kekasih sepertinya yang dandanannya udah kacau banget dan saya memperhatikannya karena tidak ada objek lain yang saya liat selain mereka. si cewek tersebut merangkul cowoknya karena tidak bisa berjalan dengan benar dan teriak-teriak meminta pertolongan yang cepat. yang bikin saya mau teriak adalah karena perut si cowok tersebut robek dan keluar darah walaupun sudah ditutupi dengan tangannya tetapi masih terlihat hihi saya langsung heboh sendiri ikutan memanggil suster atau apalah yang bisa dimintai tolong. setelah ditolong dia pun dibawa ke ruang darurat. nah saya mendengar pembicaraan si cewek yang dimintai keterangan oleh petugas yaitu mereka pengen pulang tetapi dijalan mereka di berhentikan oleh 2 orang lelaki dengan membawa alat tajam saya lupa namanya hehe yang menginginkan motornya walaupun sudah diberikan tetapi orang itu masih melukai cowok tersebut hihi sereeem.
    Jadi, gausah jauh-jauh khawatir tentang suatu negara itu aman atau tidak karena didalem negeri saja apalagi dikota tempat tinggal sendiri bisa mengalami hal-hal kriminalitas. yang terpenting kita tetap menjaga diri dan waspada terhadap sekitar dan khususnya buat wanita jangan keluar malem walaupun saya sendiri suka keluar malem karena suka laper kalo malem hehe.
    vera julianti
    @intankrnwti

Leave a Reply