Laos Slowboat – untuk turis atau penduduk lokal?

By October 5, 2012July 7th, 2017Informasi Praktis Laos

Sebagai negara yang dikelilingi oleh sungai, transportasi utama di Laos sebelum ada akses jalan raya adalah menggunakan perahu. Perahu yang dipakai ada 2 macam, ada yang disebut Laos slowboat, ada yang disebut Laos fastboat. Dari namanya, tentu langsung ngerti kenapa disebut demikian. Fastboat sendiri dikenal berbahaya di kalangan para turis dan sangat tidak dianjurkan di hampir seluruh buku-buku panduan yang beredar. Kenapa berbahaya? Karena saking cepatnya kadang kalau menabrak batu atau ada batang pohon yang mengapung akan mengakibatkan perahu terbalik.

Laos Slowboat Houay Xai Luang Prabang

Laos Slowboat Houay Xai Luang Prabang

Laos slowboat untuk turis

Slowboat di Laos yang terkenal biasanya adalah rute dari Houay Xai menuju Luang Prabang. Slowboat tersebut lebih difokuskan untuk mengangkut para turis yang baru saja menyeberang dari Thailand dan masuk ke Laos kemudian mengarah ke kota kecil yang digemari turis, Luang Prabang. Dulu, waktu saya naik slowboat dari Houay Xai menuju Luang Prabang, isinya 95% turis. Fasilitasnya pun lumayan, tempat duduknya dari car seat, ada toilet dan ada kantin.

Laos slowboat untuk penduduk lokal

Pengalaman kami yang menarik adalah saat mencari slowboat yang berangkat dari Houay Xai ke arah utara. Karena semua Laos slowboat yang berangkat dari sana diperuntukkan untuk turis yang menuju Luang Prabang, tidak ada yang melayani rute kami. Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke kota kecil 50 km di utara Houay Xai dengan harapan ada perahu yang mau membawa kami ke utara.


Setelah naik songthaew (semacam angkot untuk warga lokal, dengan dua baris panjang berhadap-hadapan) selama 2 jam, kami tiba di Ban Mom. Rencananya sih kami mencari fastboat, namun ternyata tidak ada yang mau melayani. Alasannya karena di daerah utara sana tidak aman, sering terjadi ‘peperangan’ antara Laos dengan pihak Myanmar, negara tetangganya di seberang Sungai Mekong. Mereka membuat gerakan ‘orang menembak dengan senapan’ untuk menjelaskan situasi tersebut kepada kami. Agak seram juga sih. Akhirnya kami memutuskan untuk cari slowboat saja.

Tentara bersenjata di pinggir sungai Mekong

Tentara bersenjata di pinggir sungai Mekong

Menurut informasi, karena di Ban Mom tersebut ada semacam kantor imigrasi yang mengatur perbatasan Laos, semua perahu yang lewat sana harus berhenti dan mendapatkan ijin (berupa stempel di buku perjalanan mereka) dari pihak imigrasi. Kami pun sudah siap dari jam 7 pagi menunggu slowboat yang lewat untuk ditumpangi ke arah utara. Satu jam demi satu jam pun berlalu. Akhirnya setelah hampir 5 jam menunggu, pukul 11.30 ada sebuah slowboat menepi.

Sang kapten kapal turun untuk minta stempel di kantor imigrasi. Kami dengan bahasa campur-campur minta ijin ikut perahunya ke Xieng Kok, kota yang dituju. Dia mempersilahkan. Kemudian kami tawar-menawar harga, ternyata harga mati. Dia minta 500,000 kip (sekitar Rp 600.000,-). Karena tidak punya pilihan, kami terpaksa setuju. Naik ke perahunya, kami langsung disambut dengan pemandangan yang mencengangkan.

Di bagian tengah slowboat tersebut, berdiri kurang lebih 50 ekor kerbau yang masing-masing terikat dengan tali ke papan-papan penyangga perahu. Ok, ternyata kami menumpang slowboat berupa perahu kargo. Sang kapten sih ramah sekali, menawarkan makan siang, minum , bahkan kasur untuk tidur siang. Di tengah jalan, dia mengangkut 3 orang dewasa beserta 2 orang anak kecil, warga lokal yang kebetulan mau ke arah Xieng Kok juga.

Laos Slowboat perahu cargo isi kerbau

Laos Slowboat perahu cargo isi kerbau

Perjalanan menuju Xieng Kok seharusnya ditempuh selama 7 jam. Pukul 6 sore, kami hampir tiba di tujuan, hanya sekitar 45 menit lagi. Ternyata sang kapten mengarahkan perahunya ke tepian. Hmm…mau apa ya? Kemudian setelah menepi seluruh awak kapal mulai mengikat perahu ke daratan. Lah, kan belum sampai? Ternyata kata sang kapten sudah gelap, hari ini tidur disini, besok baru sampai Xieng Kok.

Sunset di Sungai Mekong

Sunset di Sungai Mekong

Speechless. Masih setengah tak percaya, semua mulai beres-beres. Setelah disuguhi makan malam, kasur pun mulai digelar di bawah kemudi. Para awak kapal tidur di atas atap, sedangkan kami tidur di bawah kemudi (kan tidak ada ruangan lagi. Masih ingat, semua ruang tengah diisi oleh para kerbau?)

Awalnya tidak bisa tidur karena sangat panas dan banyak serangga yang mengerubungi cahaya lampu, walaupun kami sudah berada di bawah lindungan jaring nyamuk. Setelah mulai terbiasa, eh para kerbau mulai berulah. Mereka saling dorong-mendorong sehingga membuat suara berisik dan perahu ikut tergoncang-goncang. Sempat khawatir perahu terguling akibat goncangan yang cukup kuat.

Jam 11 malam, awak kapal terpaksa turun tangan menenangkan mereka sambil mengubah ikatan tali supaya mungkin mereka ada ruang gerak. Tapi suara berisik terus berlangsung sampai subuh. Saat hampir tenang, kurang lebih jam 4 atau jam 5 pagi, warga lokal dan para awak kapal sudah bangun dan mulai berisik.

Jam 5.30, kami terpaksa bangun karena sang kapten langsung ambil posisi di depan kemudi. Perjalanan slowboat kembali dilanjutkan dalam suasana yang masih belum terlalu terang. Sekitar 1 jam kemudian, kami sampai di tujuan. Phiuhhh…..lega rasanya.

Saat mengingat pengalaman ini, rasanya seru ya. Tapi pada saat menjalaninya, itu merupakan tantangan berat. Hal menyenangkan: We’ve got one of the best sunsets in the Mekong River! Hal kurang menyenangkan: saya sepertinya kena gigitan bedbugs dari kasur mereka yang bikin saya gatal-gatal selama beberapa hari 🙁

Jadi, kalian mau coba Laos slowboat yang untuk turis atau penduduk lokal? 🙂 Butuh informasi penginapan di Laos? Silahkan cek harga spesial di sini.

Join the discussion 3 Comments

Leave a Reply