Tips Traveling di Eropa untuk Mid-range budget traveller

By May 9, 2015Miscellaneous

Sebagai langganan pengguna Agoda dan untuk memperingati 7 tahun Agoda di Indonesia, kami ingin membagikan sedikit tips traveling di Eropa untuk mid-range budget traveler. Sebelum baca lebih lanjut, kami mau menjelaskan dulu istilah mid-range budget traveler ini maksudnya yang sedang-sedang saja. Tidak ekstrem low budget sehingga selalu cari yang gratis atau yang paling murah. Bukan juga luxury sehingga tidak peduli berapapun harganya tidak masalah.

Kami tidak pakai istilah backpacker karena banyak yang menganggap backpacker selalu harus low budget. Selain itu kami juga mau klarifikasi bahwa kami bukan ahlinya traveling di Eropa. Kami baru keliling Eropa 2 kali masing-masing 3 bulan dan 2 bulan. Namun dari pengalaman tersebut ada banyak pelajaran yang kami rasakan dan ingin kami bagikan. Mungkin ada yang tidak setuju, namun semuanya kami rangkum berdasarkan pengalaman pribadi kami. Mudah-mudahan informasinya berguna bagi yang berencana ke Eropa untuk pertama kalinya.

1. Cara cari tiket pesawat murah

Untuk masalah yang satu ini kami sarankan rajin-rajin cek harga tiket via Skyscanner. Kalau sudah tahu rute yang diinginkan, sign-up supaya skyscanner mengirimkan email notifikasi jika ada perubahan harga. Begitu harga turun dan kira-kira ok dengan harganya langsung booking. Cara lain adalah dengan sign-up newsletter beberapa airlines yang sering mengadakan promo tarif besar-besaran. Sehingga saat ada promo langsung bisa cari rute-rute yang murah meskipun belum ada rencana sebelumnya.

Jangan batasi cuma cek airline terkenal saja karena kadang-kadang ada harga bagus dari airline yang non-mainstream. Waktu pertama kali ke Eropa tahun 2013 kami dapat rate sekitar 300 USD per orang untuk rute Singapura-Paris sekali jalan dengan menggunakan Saudi Air yang ternyata full-serviced carrier.

Berikutnya karena perjalanan ke Eropa itu long-haul, cari yang transitnya tidak terlalu merepotkan (baca: jangan terlalu mepet dan jangan sampai di atas 10 jam). Hindari adegan AADC yang harus lari-lari ke gate dan hindari mati kutu akibat kelamaan transit. Bukan cuma masalah mati kutu sih, sebenarnya semakin lama transit maka akan semakin lama badan bisa benar-benar istirahat. Kalau ditotal, untuk ke Eropa dari Indonesia bisa memakan waktu 20-30 jam bahkan lebih, dihitung sejak kamu meninggalkan rumah hingga tiba di hotel. Jadi, bijak-bijaklah cari rute penerbangannya.

2. Pelajari situasi akomodasi

Urusan akomodasi ini agak berbeda dengan pengalaman di Asia Tenggara. Biasanya di negara-negara Asia Tenggara kami lebih suka datang langsung ke area yang banyak hotel/penginapan karena kami suka membanding-bandingkan sampai dapat yang ‘value for money’-nya bagus. Lagipula sistem akomodasi di Asia Tenggara seperti di Laos, Thailand dan Vietnam ada yang masih bisa ditawar kalau datang langsung dan negosiasi di tempat. Beda waktu di Sri Lanka yang kebanyakan kami harus booking terlebih dahulu karena jarak penginapan satu dan lainnya bisa tersebar beberapa kilometer. Bisa gempor kalau harus manggul-manggul backpack kesana kemari cuma untuk dapat harga yang mungkin cuma beda 10 ribu rupiah.

Begitu juga dengan di Eropa yang tidak ada budaya tawar menawar dalam urusan akomodasi. Oleh karena itu dalam perjalanan di Eropa kami selalu booking akomodasi in advanced, tidak perlu dari Indonesia, seringkali kami booking beberapa hari sebelum tiba di kota tersebut, bahkan ada juga yang booking beberapa jam sebelumnya saat sedang dalam perjalanan bis ke tempat tersebut.

Urusan booking akomodasi, kami seringkali pakai Agoda karena ada jaminan harga lewat Agoda lebih murah dibandingkan datang langsung ataupun lewat website hotel. Pernah di Melaka sang pengurus guesthouse mengkonfirmasi kalau lebih murah booking lewat Agoda daripada datang langsung. Agoda juga punya harga bertingkat yang dilempar lewat mobile, biasanya terlihat di setiap hotel yang berpartisipasi, namanya Mobile Deals. Ini sedikit lebih murah dari harga di desktop dikarenakan hotel-hotel yang sudah savvy mengenai mobile akses mau menarik para traveler dengan mobilitas tinggi.

Saat memulai perjalanan sebagai couple traveler 3 tahun lalu, awalnya prioritas kami adalah cari akomodasi yang murah tapi ga murahan. Waktu itu kami masih ga masalah menginap di dorm. Namun setelah insiden beberapa kali ada yang ho-oh-ho-oh di ranjang sebelah, Adam akhirnya memutuskan untuk hanya memilih akomodasi privat saja. Lebih nyaman kalau lagi pengin ho-oh-ho-oh. #eh

Jadi sekarang cara kami memilih akomodasi adalah dengan cara mensortir rate di Agoda. Sebelumnya tentukan standar dulu, kami sih pasang standar rate minimal 8.0. Rate yang lebih tinggi belum tentu lebih mahal dari rate rendah, cuma lebih terpercaya kenyamanannya. Dari list yang sudah disortir kami pilih-pilih yang masuk budget. Belum tentu kami pilih yang rate paling tinggi karena bisa jadi itu hotel bintang 5 yang tidak masuk budget kami. Intinya sebagai mid-range budget traveler, sesuaikan saja dengan budget, tidak perlu ambil yang paling murah/mahal.


Ngomong-ngomong soal Agoda, saat ini sedang ada promo Agoda 7 tahun dengan memberikan diskon 10 % untuk lokasi di mana saja dan kapan saja asalkan bookingnya dilakukan paling lambat tanggal 15 Mei 2015. Klik http://www.agoda.com/agoda7y?CID=1723555, cari hotel yang diinginkan, kemudian jangan lupa masukkan kode promosi ‘AGODA7Y’ di kotak promotion code. AGODA7Y ini juga bisa digunakan di mobile, ngga cuma di desktop. Lumayan bisa berhemat kan!

3. Hemat dalam urusan transportasi

Berdasarkan pengalaman kami selama 2x trip ke Eropa, sebaiknya pesan sebelum hari H terutama saat musim panas karena kalau sedang high season atau musim liburan seringkali fully-booked. Tips lain adalah dengan booking online kami beberapa kali menemukan harganya lebih murah daripada datang langsung ke counter. Pernah kami dapat tarif lebih murah 50% dari tarif normal karena kadang mereka ada tarif promo.


Biasanya kereta jauh lebih mahal daripada bis. Tapi jangan langsung menutup kemungkinan naik kereta karena kadang ada rute-rute tertentu yang naik kereta lebih murah dan lebih cepat dibandingkan bis. Pernah kami dapat tarif cuma €18 untuk kereta super cepat (300/jam) karena kereta itu jalurnya panjang sekali maka kadang untuk rute pendek mereka pasang tarif murah supaya kursi-kursinya tidak kosong. Jadi bandingkan semua pilihan yang ada dan ambil yang paling bagus (baca: cepat dan murah).

Sewa mobil di Eropa? Wah ga masuk di budget tuh. Eits…jangan langsung patah semangat. Kalau banyak riset biasanya ada saja infonya. Di Andorra kami sempat dapat rental car seharga 30-35 Euro untuk seharian keliling-keliling 1 negara. Mobilnya sedan dan keceh. Bahan bakarnya diesel dan seharian keliling cuma habis bahan bakar kurang dari 5 Euro! Jadi kalau memang lokasinya enak untuk dieksplor secara independen, coba intip opsi sewa mobil. Kalau ada 2 orang atau lebih kan bisa sharing cost. Lebih enak kalau punya transportasi sendiri sehingga bisa fleksibel dan tidak usah tergantung jadwal bis.

4. Cerdik menikmati makanan

Kombinasikan makanan lokal otentik dengan makanan murmer (murah meriah). Tidak selalu harus setiap hari makan di restoran yang menyajikan makanan khas negara tersebut. Namun jangan sampai juga tidak mencicipi makanan lokal sama sekali. Rugi kalau sudah jauh-jauh ke Eropa tapi makannya setiap hari mie instan. Bisa juga dikombinasikan dengan beli bahan makanan dari supermarket dan menyiapkan makanan untuk 1-2 meal setiap harinya sehingga hanya perlu dine out 1x per hari.

Kalau penginapannya berupa apartemen AirBnB biasanya lebih mudah jika mau masak sendiri. Berdasarkan pengalaman, belanja di supermarket Spanyol lebih murah dibandingkan supermarket di Indonesia khususnya yang mengaku punya banyak barang impor. Daging olahan dan sayuran segar harganya murah dan berkualitas karena produktivitas pertanian masih cukup tinggi.

Tips dine-out murah biasanya cari kebab shop (kebanyakan halal). 1 buah durum biasanya cuma 3-5 Euro dan sudah kenyang karena ada daging, roti pita dan sayurannya. Di Jerman, makanan lokal yang murah biasanya dari konter-konter yang jual wurst (sosis) yang sudah pakai saus dan kentang goreng. Di Spanyol makanan lokal murah berupa bocadillo (sandwich isi). Intinya, seimbangkan pengalaman kuliner otentik dengan budget.

5. Prioritaskan Atraksi Wisata

Sejak traveling bareng Adam, saya merasakan perbedaan gaya traveling kami berdua. Saya dan sebagian besar orang Asia biasanya suka ke objek-objek wisata yang megah dan fotoable. Sedangkan Adam tidak terlalu suka tempat-tempat yang terlalu touristy kecuali yang memang historis dan berskala dunia seperti Eiffel Tower dan Coloseum. Akhirnya solusinya ketemu di tengah dengan cara tidak perlu mendatangi objek wisata yang ‘katanya wajib’ atau ‘must-do’ kalau memang kitanya sendiri tidak tertarik.

Misal, buat penggemar museum pasti suka dengan banyaknya museum di Paris. Tapi buat kami yang kurang suka museum, kami sangat pilih-pilih, apalagi banyak museum di Eropa yang ada tiket masuknya. Kalau semua didatangi, bisa habis semua budgetnya. Jadi, untuk atraksi wisata di Eropa, saran kami adalah prioritaskan yang buat kamu ada interest point-nya. Tidak perlu semua didatangi cuma dengan alasan masuk daftar ’10 things to do’ dari web-web travel guide terkenal.

6. Komunikasi dan petunjuk arah

Buat kami yang seringkali traveling di suatu tempat untuk waktu yang lama, kami seringkali mempertimbangkan untuk membeli simcard lokal dengan tujuan untuk mendapatkan koneksi data internet. Fungsinya sebagian besar kami gunakan untuk Google Maps. Saya sendiri orangnya sangat map-freak, selalu cek posisi dan distance ke lokasi yang dituju. Google Maps buat kami sangat membantu dalam mempermudah mencari lokasi stasiun bis, hotel, penginapan dan atraksi wisata.

Kalau tripnya cuma sebentar tidak perlu beli simcard lokal kecuali perlu untuk stay connected dengan pekerjaan. Tips kalau tidak ada koneksi internet di henpon, begitu ada wifi langsung download Google Maps di daerah kamu. Zoom sampai detail supaya gampang saat harus mencari rute dari satu titik ke titik lainnya. Dengan Google Maps juga kita bisa memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk dari satu tempat ke tempat lainnya sehingga efektif pengaturan waktunya.


7. Mengatur Mata Uang

Tergantung berapa lama trip di Eropa-nya. Kalau cuma sebentar bawa Euro dari Indonesia dengan catatan jangan dalam pecahan besar. Maksimal pecahan 50 Euro. Itupun sudah sangat sulit dipecah kalau cuma makan di bawah 10 Euro. Jangan mau kalau dari money changer di Indonesia dikasih pecahan 100 Euro apalagi 500 Euro atau 1000 Euro karena akan sulit sekali diterima. Bayangkan kamu cuma menghabiskan beberapa ratus ribu rupiah tapi dibayar pakai uang 14 juta rupiah. Semakin kecil pecahannya semakin bagus karena kebutuhan di Eropa dalam pecahan kecil, bahkan siap-siap punya banyak koin selama di Eropa.

Jika tripnya agak lama, lebih aman untuk tidak membawa semua uang tunai dari Indonesia baik dalam bentuk Euro, rupiah ataupun USD. Disarankan tarik tunai saja dari ATM. Adam punya kartu kredit HSBC yang bebas fee untuk tarik tunai di mana saja di seluruh dunia. Saya sendiri sering pakai Paspor BCA untuk tarik tunai di luar negeri. Setelah beberapa kali dicek, rate currency exchange di BCA lumayan bagus. Namun ada biaya Rp 25.000,- setiap kali tarik tunai. Jadi pastikan kalau mau ambil jangan sedikit-sedikit. Karena semakin sering tarik tunai semakin banyak fee-nya.

Dari hasil pengamatan beberapa ATM biasanya batas maksimal penarikan tunai berkisar antara 300-600 Euro. Satu lagi catatan penting, saat tarik tunai di ATM biasanya akan ada penawaran untuk ditukar dengan rate USD dulu. Tekan ‘cancel’ yang artinya kamu menolak rate tersebut (karena itu penawaran untuk ditagih dalam bentuk USD terlebih dahulu, kemudian bank kamu akan convert lagi dari USD ke rupiah. Artinya kena 2 kali konversi dan jatuhnya jauh lebih mahal). Setelah tekan cancel maka ATM akan mengkonfirmasi jumlah Euro yang akan ditarik tanpa lewat 2x konversi. Dari sana tinggal tekan ok maka lembaran Euro pun akan keluar.

Tips: coba tarik dalam jumlah yang tidak bulat dengan merujuk ke pecahan terkecil. Misal, jika tarik 200 Euro maka kemungkinan besar kamu akan dapat 4 lembar pecahan 50 Euro. Tapi jika kamu tarik 210 Euro maka akan keluar 3 lembar 50 Euro dan 3 lembar 20 Euro. Jadi lebih mudah dipecah kan? 🙂

Sekian dulu tips dari kami. Nanti kalau ada lagi yang kami ingat akan kami tambahkan. Ada yang mau tambahkan tips versi sendiri? 🙂

Join the discussion 25 Comments

  • Gege says:

    thank you sangat infonya Ka susaaaan. berharap banget berkesempatan traveling ke eropaa hihihi

  • Fahmi says:

    Yang bikin keder biasanya tiket pesawat sih mbak~ berdua pasti udah dua digit aja XD

    • Susan Natalia Poskitt says:

      Skrg mah gila2an kompetisi airfare, jadi customer kecipratan rejekinya. Cari airline yg non-mainstream. Kmrn ini Sing-Paris dapet 3jt-an aja 1 org one way pake Saudi Air.

      • Gege says:

        Wooohhoo, oyaaa? 6 jutaan PP Sing-Paris oke banget tuh kaa!
        Boleh bantuannya ga ka, yang tergolong non mainstream apa aja? Selain Saudi Air.
        Aku selama ini taunya Airasia doang >.<

        • Susan Natalia Poskitt says:

          wah…harus cari di skyscanner. pilihannya banyak sekali, namun kami tidak tahu apa saja. itu juga nemu Saudi Air karena nongol waktu dilist yang paling murah di Skyscanner. Jadi lebih baik liat lsg di skyscanner karena harga promo berubah2, bukan hanya tergantung airline-nya, tp tergantung airline mana yang lagi promo 🙂

  • Stefanie says:

    Yang mau liburan ke eropa bisa ketemuan nih?

  • sc says:

    Hi,
    Kalau untuk beginners ke eropa, mending kemana dulu? Utk juni juli 3 mingguan.

  • Ananda says:

    Kak, saya rencana ke eropa barat 25maret sampai 02 april mendatang, dpt direct tiket Sin-Ams 6jt dan Ams-Sin 7jt, apa itu msh tegolong standart kah?

  • putri says:

    Kak, kalau pergi ke Eropa sekitar sebulanan kira2 perlu nggak sih beli simcard lokal? Ada rekomendasi operator yg bagus dan murah?

  • Yoga says:

    Maaf, mau nanya untuk referensi. Waktu keliling eropa 3 bulan itu pergi ke berapa negara? Lalu perkiraan habis berapa ya biayanya? Saya planning mau keliling eropa selama 3 bulan juga, dan sedang cari informasi terutama masalah budget.

  • Eveline says:

    Saya berencana ke Italy. Kalau mengurus visa khan selalu diminta fc rekenimg koran & katanya saldo rata2 visa Italy 50 juta. Terus terang tabungan saya bukan berupa uang tunai tapi berupa ORI, SUKUK, SBR. Jadi gimana caranya supaya bisa lolos visa Italy? Mohon tipsnya makasih ya… 🙂

    • Adam says:

      Katanya? Kata siapa? Pertama, riset situs resmi kedubes italy. Kebanyakan kedubes tidak menyebutkan secara spesifik jumlah uang yang dibutuhkan, tapi ada yang disebut minimal xx Euro/hari. Saya tidak tahu tentang ORI, SUKUK, SBR. Tapi, sebaiknya punya uang tunai atau tabungan yang liquid. Kalau tidak, gimana Anda akan beli tiket penerbangan, akomodasi, makanan, tiket masuk atraksi, transportasi? Kalau tidak punya cukup uang, pasti tidak bisa ke eropa…. 🙁

  • Maya says:

    Halo kak, mau tanya tentang simcard nih kak. Lebih baik beli yang satu simcard buat banyak kota atau per kota beli sendiri2 ya? Terus mendingan beli simcard u/ ponsel atau bawa mifi aja kak? Terima kasih banyak kak! 😀

    • Adam says:

      tgt negara & harga simcard sih. Biasanya kalo murah kami beli di masing2 negara sesuai kebutuhan. Tgt brp lama juga di negara tsb, kalo cuma 1-2 hari sih biasanya bergantung sama free wifi aja. Skrg dmn2 gampang2 free wifi jadi ga akan stuck2 amat kecuali kalo lagi di hutan 😉

  • Ninda says:

    Ka, waktu ke andorra itu apply visa schengen yg multi entry apa ngga?
    Trs car rental yg d andorra itu lgsg on the spot k lokasi apa via web?

    • Susan Natalia Poskitt says:

      iya…multiple entry karena di andorra ga ada bandara, jadi masuk/keluarnya harus jalan darat lewat perancis atau spanyol.
      car rental waktu itu sempet browsing2 dulu buat cek harganya, trus booking dulu baru datengin officenya buat ambil kunci. On the spot bisa aja sih harusnya tapi nanti patokan harganya kurang jelas.

  • frans says:

    Mba masalah ATM di Eropa.. itu nariknya di negara mana ya?
    saya punya ATM BCA, (Cirrus) tapi katanya kalo di eropa ATM Indonesia ga bisa narik karena Jumlah Digit PIN ATM di Eropa 4 digit sedangkan pin di Indonesia kan pakenya 6 digit semua…

    • Susan Natalia Poskitt says:

      eh masa sih? berdasarkan pengalaman sih saya beberapa kali pernah ambil ATM pake kartu debet BCA. Mungkin ga semua negara bisa, tapi kurang tau juga mana yang bisa mana yang ngga.

Leave a Reply