
“Dalam rangka apa ke Pontianak?” Selama 4 hari keliling-keliling naik ojek online, selalu ditanya seperti itu. Jawabannya simple aja “Mau wisata kuliner di Pontianak!” Hehe….memang image ‘makanannya enak-enak’ itu sangat melekat di kota Pontianak. Banyak makanan non-halal di Pontianak, tapi banyak juga makanan halal yang tidak kalah enaknya di Pontianak.
Penasaran bisa makan apa kami selama 4 hari di Pontianak? Yuk simak laporan kuliner berikut ini:
1. Chaikue

Dari hasil riset dan tanya-tanya, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba Chaikue Parwasal (disebut juga Chaikue Tian Melly / Chaikue Siantan) yang lokasinya agak jauh di Siantan. Sekalian nyoba naik ferry nyebrang Sungai Kapuas, pagi-pagi kami menuju Gg. Parwasal di area Siantan di seberang sungai. Tempatnya memang kelihatan banget bernuansa lawas. Rumah model tua dengan halaman depan di atas selokan yang dipermak jadi area makan. Mereka jualnya chaikue kukus dengan 5 pilihan isian: bengkoang, kacang, kucai, rebung, talas ungu. Semuanya enak karena terasa sangat fresh. Tapi kayaknya favoritnya bengkoang dan rebung karena teksturnya lebih renyah.
Harga: Rp1.500/biji.
Lokasi: Gg. Parwasal, Jalan Khatulistiwa, Siantan.
2. Bakmi Pemangkat (non-halal)

Kalau di Bandung kan biasanya toppingnya standar, daging cincang atau daging ayam suwir. Bakmi Pemangkat ini pake topping babi merah (chasiu), udang, babi cincang, baso ikan, kulit babi, pangsit rebus, toge, baso ikan goreng. Kuahnya ga terlalu tawar, kerasa banget seledrinya. Ada potongan garlic dan kacang tanah.
Harga: Rp20.000
Lokasi: Jalan Siam
3. Kwecap Veteran (non-halal)

Satu mangkuk lagi sup bening yang isinya campur-campur, ada kembang tahu, baso daging cincang kecil, tahu goreng, kacang tanah, paria, daging kering, kulit babi, telur puyuh, pork ribs (tanpa tulang) dan irisan daging rebus plus taburan bawang putih kering.
Kami sengaja tidak pakai jeroan, tapi kalau mau komplit pakai jeroan bisa pakai hati. Cara makannya: kuah sup dicampurkan ke mangkuk kwecap jadi tidak seperti makan sup daging karena ada kwecapnya. Rasanya gurih banget dari kuah kaldunya.
Harga: Rp40.000
Lokasi: Jalan Veteran
4. Bakmi kepiting Oukie (non-halal)

Bakmi Kepiting Oukie ini lokasinya bukan di pusat kota seperti Jalan Gajah Mada, tapi sepertinya paling populer untuk urusan bakmi kepiting. Waktu kami di sana kami lihat banyak banget pengunjung yang sepertinya sudah jadi langganan tetap.
Seperti judulnya, bakmi kepiting ini adalah bakmi yang toppingnya pake daging kepiting. Tapi daging kepitingnya dikit banget sih, cuma secuil. Mungkin karena kepiting mahal ya. Tapi selain suwiran daging kepiting masih banyak isi toppingnya: Baso ikan kecil 4 butir, telur, baso ikan kotak-kotak tipis, baso kepiting, pangsit goreng dan babi kecap. Karena ada babi kecap makanya bakmi kepiting ini jadi non-halal. Kalau tidak mau pakai mie kuning, bisa diganti pakai kwetiaw. Recommended!
Harga: Rp30.000
Lokasi: Jalan Tanjung Pura
5. Nasi Campur Akwang (non-halal)

Yang bikin beda dengan nasi campur Bandung, di Pontianak nasi campurnya disiram kuah kental bening. Lumayan sih jadi lebih enak makan nasinya. Karena kadang kalau cuma nasi putih dengan daging agak seret makannya, meskipun sama-sama ada tambahan semangkuk sup bening juga sih. Tapi seringkali sup beningnya tawar, jadi kurang nyambung sama nasi campurnya.
Harga: Rp43.000
Lokasi: Jalan Pahlawan
6. Nasi Ayam Afu (non-halal)

Toppingnya mirip dengan Nasi Campur Akwang: chinese sausage (lapciong), ayam kecap, chasiu, telur kecap dengan pinggiran sayur asin dan timun. Sama-sama disiram kuah kental bening. Kuah encernya lebih berwarna sedikit karena pakai seledri, kacang dan bawang putih kering. Sosisnya enak dan lebih lebar dari lapciong biasa, tapi sayangnya di sini ga ada samcan yang kulitnya kriuk kriuk.
Kalau ditanya lebih enak mana dibanding nasi campur Akwang? Sama-sama enak sih. Kekurangannya di Nasi Ayam Afu potongan telur kecapnya kecil banget, saya kebagian potongan yang tidak ada kuning telurnya, cuma ada putihnya aja. Tapi kayaknya di Nasi Ayam Afu ini dagingnya lebih banyak dibanding Nasi Campur Akwang.
Harga: Rp30.000
Lokasi: Jalan Gajah Mada
7. Baso Ikan Telur Asin Ahan

Baso Ikan ini populer banget, waktu ke sana 2 kedainya penuh dengan orang-orang yang mampir makan siang. Baso ikan ini berupa semangkuk kuah bening yang isinya berbagai macam baso ikan dalam berbagai rupa dan bentuk. Ada 2 baso ikan kecil, 1 baso ikan goreng, 1 baso tahu, 1 baso brokoli, 1 baso cabe ijo (yang ini puedesss banget, gaes), 1 kulit ikan, 1 baso cumi kecil, 1 baso ikan isi telor asin. Ditambah lagi pakai rumput laut, bihun dan sejumput sayuran ijo. Kalau liat di gerobaknya sih ada baso ikan yang dikombinasikan dengan jagung muda dan paria juga. Tapi waktu itu ga dapet sih, mungkin random aja kombinasinya kecuali rikues khusus mau baso ikan yang mana saja. Kalo kurang kenyang bisa makan pakai nasi putih.
Rupanya enak juga baso ikan ini. Paling enak sih baso ikan isi telur asinnya, tapi sayang cuma 1 butir. Kalo minta yang isinya telur asin semua bakal dikasih ga ya? Hehe…. Oh ya, bakso ikan ini HALAL, ada tulisan besar di depan gerobaknya.
Harga: Rp31.000
Lokasi: Jalan Wolter Monginsidi, belakang Pasar Mawar
8. Sate Lontong Sayur Daging Sapi

Di pinggirnya ditambah 4 tusuk sate sapi dengan saus kacang yang dominan manis rasanya. Kuahnya pake santan tapi sepertinya direbus pake udang juga soalnya nemu sebiji udang di kuahnya. Rasanya jadi enak, gurih-gurih manis.
Harga: Rp25.000
Lokasi: Chaikue Siantan, Gg. Parwasal, Siantan

