Inikah Saatnya Ganti Paspor Hijau?

By May 18, 2016Miscellaneous
Ganti Paspor Hijau

Sebagai sesama pemegang paspor hijau, tentunya kita sama-sama senang kalau ada negara yang memberikan free visa kepada kita. Tapi kebijakan free visa juga kadang tidak sesederhana itu. Kadang masih ada rasa deg-degan saat petugas check-in di bandara tertegun sejenak melihat paspor berwarna hijau di tangannya.

Saat ke Maroko, kami masuk jalan darat dari Ceuta (daerah kekuasaan Spanyol yang lokasinya menyempil di Maroko). Begitu melihat paspor saya, petugas imigrasi di border bilang saya harus pergi ke konter lain. Kami sudah berusaha menjelaskan bahwa saya tidak perlu visa untuk masuk Maroko, namun si petugas keukeuh menyuruh saya pergi ke konter lain yang letaknya di tengah-tengah pintu tol border. Di konter tersebut, petugas menanyakan “What’s your problem?” sambil entah kenapa terdengar kesal. Kami jawab dengan polos “We’ve got no problem.” Sambil marah-marah dia menyuruh kami kembali ke konter awal. Bingung karena diping-pong, kami kembali lagi ke konter awal dan bilang bahwa saya tidak ada masalah. Si petugas pertama terlihat kesal kemudian mencoba menelepon orang yang kemungkinan ada di konter kedua. Tak lama setelah itu sambil menggerutu dia membubuhkan cap di paspor hijau saya. Yay! Entah apa masalahnya, meskipun akhirnya saya bisa masuk, tetap saja ada saatnya saya khawatir bagaimana kalau saya tidak bisa masuk Maroko, berarti harus balik lagi ke Spanyol dan bookingan hotel di Maroko hangus semua.


Yang terbaru yang saya ingat adalah saat mau terbang dari Meksiko ke Colombia. Di bandara, petugas check-in sempat pamit sebentar begitu melihat paspor hijau. Langsung kami berdua deg-degan. Si petugas check-in pindah komputer kemudian terlihat kalau dia googling wikipedia. Alamaaakk!! Begitu kembali ke konter dan mulai memproses boarding pass saya, barulah kami berdua bisa bernapas lega. Adam pun iseng nanya “Jarang ada orang Indonesia ya?” Dia jawab “Selama 2 tahun saya bekerja di sini, baru pertama kali liat paspor Indonesia.” Jadinya dia ga yakin kebijakan visa Colombia terhadap WNI seperti apa karena ada negara2 yang perlu visa untuk ke Colombia. Si petugas check-in malah minta maaf karena merasa tidak enak. Kami berdua sambil tertawa-tawa bilang “ah….ga papa koq….wes biyasak.” 😉

Belum berhenti sampai di sana. Rupanya begitu sampai Colombia pun perjalanan si paspor hijau masih belum mulus. Akhir-akhir ini kami sering maju bersama di konter imigrasi, biasanya untuk ke negara-negara Barat cukup membantu karena posisi paspor hijau cukup lemah, namun kalau mereka melihat saya traveling bersama paspor biru (Australia) biasanya lebih ga banyak pertanyaan. Nah…entah karena sudah hampir tengah malam atau memang petugasnya jutek, belum apa-apa kami sudah disemprot karena tidak bisa berbahasa Spanyol. Awalnya dia tanya sesuatu dengan cepat, tentunya kami tidak bisa jawab. Jadi kami jawab “kami tidak bisa bicara bahasa Spanyol”. Si petugas imigrasi pun mendengus sambil bilang “Ga bisa bahasa Spanyol koq ke Colombia.” (Kami ngerti sedikit bahasa Spanyol tapi masih susah kalo disuruh jawab pertanyaan.)

Anyway, setelah ditanya-tanya dengan jutek mengenai hotel tempat menginap dll, tibalah giliran dia memproses paspor hijau saya. Sama seperti biasa, si petugas berusaha men-scan halaman depan paspor saya. Piiipp. Terdengar bunyi mesin menandakan sesuatu yang tidak benar. Dia coba lagi. Piiipp. Bunyi lagi mesinnya. Sebenarnya saya sudah sering menyaksikan kejadian seperti ini di beberapa negara lain. Sepertinya bunyi mesin itu menunjukkan kalau paspor saya tidak bisa di-scan, atau tidak terbaca oleh mesin scanner. Biasanya setelah itu si petugas akan mengetik detail paspor saya ke sistem secara manual. Namun rupanya si petugas imigrasi Colombia ini punya pemikiran lain. Dia langsung berdiri dan minta saya untuk ikut dia. Haduh….ini pertama kalinya saya digiring keluar dari barisan karena paspor saya bermasalah.

Adam pun langsung ikut bersama saya mengikuti si petugas imigrasi. Rupanya paspor saya diserahkan kepada petugas dengan jabatan ‘supervisor’ yang ada di konter lain di bagian belakang. Si petugas yang baru ini dengan santai membereskan urusannya sebelum dia pegang paspor saya. Seperti sudah biasa dengan kasus ini, dia langsung meraba-raba setiap halaman paspor mulai dari halaman depan sampai stiker-stiker visa yang tertempel. Tak lupa juga dia terawang di bawah cahaya lampu. ASTAGAAA…RUPANYA MEREKA PIKIR PASPOR SAYA PALSU karena tidak bisa di-scan. Untungnya petugas yang ini tidak jutek. Tanpa banyak bicara & tidak ditanya-tanya sama sekali, setelah dia yakin paspor saya asli, dia pun membubuhkan cap masuk Colombia. Horeee!

Setelah kejadian itu saya jadi berpikir, apakah saya harus ganti paspor? Padahal paspor ini saya dapatnya dari KJRI di Sydney, eh malah bermasalah karena sering tidak bisa di-scan. Paspor ini memang belum e-paspor, tapi sayang juga kalau ganti karena masih berlaku sampai 2019. Ada yang pernah mengalami masalah yang sama dengan paspor hijaunya? Kira-kira apakah memang dari halaman paspornya ada masalah sehingga scan tidak terbaca? Kalau minta ganti harus bayar penuh seperti ganti paspor baru kah? (Padahal kan paspor terpaksa diganti karena bermasalah, bukan karena hilang, harusnya jadi tanggung jawab pihak imigrasi dong ya…masa ngeluarin paspor yang rusak). Silakan loh kasih masukan apa yang harus saya lakukan dengan paspor hijau ini atau berbagi cerita kalau ada pengalaman serupa.

Join the discussion 7 Comments

  • Yulin says:

    Hahaha… dari judulnya kirain mba Susan mau ganti paspor dari hijau ke biru. #eh
    Belum pernah ngalamin kejadian kayak cerita di atas sih, secara daftar negara-negara yg kunjungin juga baru seiprit. 😀
    Nurut opini sotoy saya sih, itu bukan gara-gara paspornya yg bermasalah. Tapi, mungkin, emang di negara-negara itu yang belum update data/sistem dalam bandaranya–mengingat negara seperti Kolombia atau Meksiko juga masih sama-sama “negara berkembang” ya?
    Yah, sayang aja sih kalo harus ganti baru, apalagi capnya udah banyak. Haha… #lah

  • inly says:

    Sama banget kayak paspor aku, San.. Keluaran imigrasi jakarta utara sih tapinya, bukan dari Sydney, hihi.. 3x masuk australia, 3x disuruh minggir dan kudu scan manual.. 2x masuk new zealand, 2x juga scan manual, walopun lewat2 aja, tetep deg2an kalau tiba2 gak bisa atau gak boleh. sama juga sempat di terawang2 gitu di airport sydney.. duhh ribet ganti paspor kalau belum habis masa berlakunya. udah ngalamin pas paspor rusak kena banir, belum lagi mindahin beberpa visa, dan kudu bayar pula.. ditungguin aja sampai masa berlakunya selesai, konsekuensinya yah terpaksa deg2an setiap saat..

  • hahahaha.. makanya terkadang saya suka pakai passport case. Kalau disuruh buka, ya buka.. kalau enggak ya biarin aja biar nggak begitu ketara, hehehe..

  • Juliet says:

    Sering banget dapat masalah dengan paspor hijau. Pertama waktu ke Jepang, dipanggil ke ruangan imigrasi, disuruh tunggu lama. Saya tanya ada masalah, katanya tidak ada, tapi sampai 2 jam nunggu, akhirnya bisa keluar juga.Yang kedua pas di Spanyol, kebetulan paspor sudah saya ganti e-paspor. Pas liat passport hijau dengan chip dia ragu-ragu sampai tuh e-paspor mesti lewat mesin scanner.Pernah dulu paspor yang diterbitkan di KJRI Jepang, selalu problem tidak bisa discan, selalu dicek teliti sama petugas imigrasi dan diliat muka saya dengan teliti, dikirain paspor palsu kali.Jepang sejak Indonesia dapat visa waiver, jadi lebih ketat dengan paspor hijau. Karena banyak yang menyalahgunakan visa waivernya kabur kerja, kemudian minta suaka.

    • Susan Natalia Poskitt says:

      waduh…terima kasih banyak sharing pengalamannya! Semoga kita ga kena interogasi lagi ya sampai masa berlaku paspornya abis (dan mudah2an paspor baru ga gitu lagi).

  • sasa says:

    menurut temen-temenku yg kerja di imigrasi sih passpor keluaran kedutaan emang mrz nya suka gak kebaca di sistem jadi terkadang memang harus input manual. kl memang mau ganti tetep kena biaya full untuk beli buku passpornya. memang sih bukan salah kita yah tapi memang jadi risky deh tiap kali mau jalan-jalan.
    mudah-mudahan ngebantu ya, Mba Susan 🙂

Leave a Reply